Pada
suatu hari di salah satu cafe di pinggiran kota besar. Duduklah dua orang
saling berhadapan dengan dua cangkir kopi panas di depan mereka berdua. Mereka
berdua adalah seorang pendeta dan reporter. Si pendeta adalah orang tua berumur
enam puluh tahunan dengan rambut ubanan dan garis-garis tipis di wajahnya
menggambarkan kebijaksanaan dari pendeta ini. Si reporter adalah seorang wanita
muda di pertengahan dua puluh tahunan yang tidak percaya kepada Tuhan dengan
tampang tegas yang jelas akan menggali berita hingga akar-akarnya, dan juga dia
adalah seorang wanita yang bersemangat
akan pekerjaannya.