Amanda berada di atas panggung. Sambil menatap ke depan dan memfokuskan pandangannya di kursi-kursi kosong yang berada tepat di tengah ruangan auditorium sekolahnya itu, Amanda mulai membuka bibirnya dan mulai bernyanyi. Suaranya terdengar bergetar, tangannya yang memegang mic berusaha mengatur jarak dengan bibirnya untuk mengatur suara. Nyanyian yang bagus sebenarnya, tapi saat Amanda sedang menyanyi dia sendiri tahu bahwa dia masih harus terus berlatih jika memang mau memenangkan kompetisi menyanyi untuk memperebutkan beasiawa jurusan kesenian di salah satu universitas terbaik di daerahnya.
Setelah selesai mengatakan lyric terakhir di lagu yang Amanda nyanyikan, hanya ada satu orang yang bertepuk tangan menyemangatinya, karena memang auditorium sekolahnya saat itu sedang kosong. Dia adalah Michael, teman Amanda sejak kecil. Amanda tersenyum menatap Michael sambil turun dari panggung. "Bagaimana? Apakah penampilanku semakin baik?" tanya Amanda pada Michael, "Ya, tentu saja... Aku rasa kamu akan memenangi kompetisi itu Amanda!" jawab Michael menyemangati Amanda. "Tidak, aku rasa penampilanku tidak jauh berbeda di banding kemarin, Michael gimana dong.. Aku merasa ga mungkin menang!" Amanda berkata khawatir.
