Senin, 27 Mei 2013

CROSS



Malam yang gelap menyelimuti saat aku sedang merenung. Tetesan air hujan kudengar saat air dari langit itu jatuh menghantam tanah. Aku sendirian memandang jendela dan hanya bisa melihat kegelapan melaluinya. Begitu sepi, aku tak bisa mendengar suara apapun selain hembusan nafasku sendiri. Aku mencoba memejamkan mataku sejenak untuk menyelami lebih dalam keheningan ini. Seharian mendengar kebisingan kota metropolis yang sepertinya tak ada habisnya membuatku menghargai keheningan yang bisa aku dapat sekarang. Setelah puas merasakan keheningan malam, aku membuka mataku dan memandang ke depan. Kulihat Alkitab didepan mejaku dan mengambilnya untuk membacanya.



Sebenarnya ini bukan hal yang biasa aku lakukan, dilihat dari Alkitabku yang terlihat masih baru padahal telah kubeli sejak 5 tahun yang lalu membuktikan aku jarang sekali membukanya. Tapi entah mengapa malam itu aku terdorong untuk membuka kembali Alkitabku dan membacanya secara acak. Saat tanganku membalik-balikan halamannya secara asal saja, jari-jariku terhenti di kitab 1 Petrus ayat 24 yang tertulis “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” Aku membaca ayat ini berulang-ulang dalam hati, dan mencoba merenungkannya.