Pada
suatu hari di salah satu cafe di pinggiran kota besar. Duduklah dua orang
saling berhadapan dengan dua cangkir kopi panas di depan mereka berdua. Mereka
berdua adalah seorang pendeta dan reporter. Si pendeta adalah orang tua berumur
enam puluh tahunan dengan rambut ubanan dan garis-garis tipis di wajahnya
menggambarkan kebijaksanaan dari pendeta ini. Si reporter adalah seorang wanita
muda di pertengahan dua puluh tahunan yang tidak percaya kepada Tuhan dengan
tampang tegas yang jelas akan menggali berita hingga akar-akarnya, dan juga dia
adalah seorang wanita yang bersemangat
akan pekerjaannya.
Reporter
ini mengeluarkan alat rekaman dari tas tangannya dan menaruhnya di atas meja
sambil berkata dengan tersenyum kepada pendeta, “ mari kita mulai”. Sang
pendeta mengangguk kecil untuk menyanggupinya. “Apakah Tuhan itu ada?” tanya si
reporter tanpa basa-basi. Si pendeta tersenyum dan menjawab tanpa ragu “Ya Dia
ada, dan sebagai tambahan Dia juga hidup.” “apa maksudnya Dia ada dan juga
hidup?”
“Tuhan
ada yang saya maksud berarti Dia adalah pribadi yang nyata dan bisa dilihat dan
Dia juga hidup berarti Dia bisa dan sedang bergerak” mendengar jawab si
pendeta, reporter ini mengernyitkan keningnya sambil bertanya dengan tidak
percaya “Maksudnya?” “hmm, pasti kamu pernah melihat bintang dan bulan di malam
hari dan juga lautan yang luas saat hari sedang cerah, pemandangan itulah yang
saya maksud saat berkata Tuhan itu ada, lalu..”
Si
repoter memotong “Tunggu dulu apa maksudnya ini, pemandangan alam adalah bukti
kehadiran Tuhan? Bukankah semuanya bisa dijelaskan secara..” “Logika? Ilmu
pengetahuan?” si pendeta balas memotong sambil melanjutkan “iya mungkin memang
benar demikian, semua pemandangan alam bisa kita jelaskan secara masuk akal, tapi
pengetahuan kita tidaklah sempurna, saya ragu apakah ada ilmuan yang telah
berhasil menguraikan dan mengetahui seluruh rahasia alam semesta ini, kau kenal
salah seorang yang seperti itu?” “Tidak..” si reporter menjawab lemah. “Ya
benar, tidak ada yang mengetahui semua tentang alam semesta ini, Tuhan
menciptakan alam semesta yang megah dan dunia ini sebagai bukti kehadiranNya”
“Tapi
Tuhan yang hidup? Bagaimana bisa? Siapa yang pernah bertemu dengan Tuhan untuk
membuktikan bahwa Dia nyata, atau hidup?” si reporter bertanya dengan agak
tidak sabaran setelah mendengar jawaban si pendeta tadi. “Tentu ada, malahan
sangat banyak orang yang telah bertemu dan berjumpa dengan Tuhan dan juga masih
hidup hingga hari ini untuk menceritakan tentang Dia” “Bagaimana bisa..” si
reporter kembali memotong dengan agak kesal karena dia merasa pendeta tua ini
ngelantur, pernah bertemu dengan Tuhan? Yang benar saja pikirnya dalam hati.
“Dengan
merasakan nak, hanya dengan merasakan..” Jawab pendeta sederhana. Mendengar
jawabnya, si reporter diam sejenak dan berkata dengan suara yang agak tertahan
“Tolong lanjutkan..” “dengan merasakan orang-orang ini termasuk saya salah
satunya telah bertemu bahkan lebih dari itu kami telah mengenal Dia..kami
adalah orang-orang yang telah MERASAKAN pertolonganNya didalam hidup kami,
MERASAKAN persekutuan denganNya saat berdoa dalam NamaNya dan MERASAKAN
kebebasan saat menerima Dia sebagai juruselamat pribadi kami”
Setelah
mendengar jawaban si pendeta, reporter ini tertunduk menatap kakinya di lantai.
Melihat ini si pendeta bertanya dengan lembut “Pernahkah kamu melihat seorang
yang berdoa begitu khusyuk dan mungkin saja menangis dalam doanya?” mendengar
pertanyaan ini si reporter yang tertunduk merasakan air keluar dari matanya
saat dia menjawab “ya, Ibu saya...” “Dan menurutmu pada siapa ibumu berdoa
seperti itu?” “Saya rasa dia sedang berdoa kepada...TUHAN” jawab wanita ini
menangis.
“Dengar
nak, Tuhan bekerja dengan cara yang sangat ajaib dan sangat misterius. Saat
saya berkata Tuhan sedang bergerak maksudnya adalah Dia bergerak dari hati ke
hati, Dia mengetuk pintu mereka dan menunggu hingga ada orang yang bersedia
membuka hatinya untuk Dia. Maukah kamu membuka hatimu untuk Dia?”
“Saya
tidak yakin...” jawab si repoter itu ragu-ragu. Si pendeta tersenyum dan
berkata “Ya tidak apa-apa, tapi bolehkah saya tetap mendoakan kamu?” “Tentu
saja..” si reporter menjawab lembut. Setelah si pendota berdoa reporter ini
berdiri mengambil alat rekamannya di meja dan bersalaman dengan pendeta sambil
mengucapkan selamat tinggal. Si repoter sedang berjalan memegang gagang pintu
untuk keluar dari cafe saat dia ingat satu pertanyaan lagi dan berbalik ke arah
pendeta yang sedang memperhatikan dia keluar, repoter ini bertanya “Apa inti
dari semua interview ini?”
“Kau
boleh menulis di artikelmu, inti dari semuanya adalah KARENA TUHAN ITU BESAR.”
Sang pendeta menjawab santai. Mendengar jawabnya si reporter tersenyum dan
pergi.
Jadi maukah kamu
membuka hati bagi Dia? Atau menjawab seperti reporter tadi “aku tidak yakin..”
Yehezkiel 38:23 “Aku akan menunjukkan kebesaran-Ku dan menyatakan diri-Ku di
hadapan bangsa-bangsa yang banyak, dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah
Tuhan”
Ditulis Oleh: Thomas Mulia Contributor@GodBesideUs
Ditulis Oleh: Thomas Mulia Contributor
0 comments:
Posting Komentar