Rabu, 29 Agustus 2012

Karena Tuhan Itu Besar



Pada suatu hari di salah satu cafe di pinggiran kota besar. Duduklah dua orang saling berhadapan dengan dua cangkir kopi panas di depan mereka berdua. Mereka berdua adalah seorang pendeta dan reporter. Si pendeta adalah orang tua berumur enam puluh tahunan dengan rambut ubanan dan garis-garis tipis di wajahnya menggambarkan kebijaksanaan dari pendeta ini. Si reporter adalah seorang wanita muda di pertengahan dua puluh tahunan yang tidak percaya kepada Tuhan dengan tampang tegas yang jelas akan menggali berita hingga akar-akarnya, dan juga dia adalah seorang wanita yang  bersemangat akan pekerjaannya.




Reporter ini mengeluarkan alat rekaman dari tas tangannya dan menaruhnya di atas meja sambil berkata dengan tersenyum kepada pendeta, “ mari kita mulai”. Sang pendeta mengangguk kecil untuk menyanggupinya. “Apakah Tuhan itu ada?” tanya si reporter tanpa basa-basi. Si pendeta tersenyum dan menjawab tanpa ragu “Ya Dia ada, dan sebagai tambahan Dia juga hidup.” “apa maksudnya Dia ada dan juga hidup?”


“Tuhan ada yang saya maksud berarti Dia adalah pribadi yang nyata dan bisa dilihat dan Dia juga hidup berarti Dia bisa dan sedang bergerak” mendengar jawab si pendeta, reporter ini mengernyitkan keningnya sambil bertanya dengan tidak percaya “Maksudnya?” “hmm, pasti kamu pernah melihat bintang dan bulan di malam hari dan juga lautan yang luas saat hari sedang cerah, pemandangan itulah yang saya maksud saat berkata Tuhan itu ada, lalu..”


Si repoter memotong “Tunggu dulu apa maksudnya ini, pemandangan alam adalah bukti kehadiran Tuhan? Bukankah semuanya bisa dijelaskan secara..” “Logika? Ilmu pengetahuan?” si pendeta balas memotong sambil melanjutkan “iya mungkin memang benar demikian, semua pemandangan alam bisa kita jelaskan secara masuk akal, tapi pengetahuan kita tidaklah sempurna, saya ragu apakah ada ilmuan yang telah berhasil menguraikan dan mengetahui seluruh rahasia alam semesta ini, kau kenal salah seorang yang seperti itu?” “Tidak..” si reporter menjawab lemah. “Ya benar, tidak ada yang mengetahui semua tentang alam semesta ini, Tuhan menciptakan alam semesta yang megah dan dunia ini sebagai bukti kehadiranNya”


“Tapi Tuhan yang hidup? Bagaimana bisa? Siapa yang pernah bertemu dengan Tuhan untuk membuktikan bahwa Dia nyata, atau hidup?” si reporter bertanya dengan agak tidak sabaran setelah mendengar jawaban si pendeta tadi. “Tentu ada, malahan sangat banyak orang yang telah bertemu dan berjumpa dengan Tuhan dan juga masih hidup hingga hari ini untuk menceritakan tentang Dia” “Bagaimana bisa..” si reporter kembali memotong dengan agak kesal karena dia merasa pendeta tua ini ngelantur, pernah bertemu dengan Tuhan? Yang benar saja pikirnya dalam hati.


“Dengan merasakan nak, hanya dengan merasakan..” Jawab pendeta sederhana. Mendengar jawabnya, si reporter diam sejenak dan berkata dengan suara yang agak tertahan “Tolong lanjutkan..” “dengan merasakan orang-orang ini termasuk saya salah satunya telah bertemu bahkan lebih dari itu kami telah mengenal Dia..kami adalah orang-orang yang telah MERASAKAN pertolonganNya didalam hidup kami, MERASAKAN persekutuan denganNya saat berdoa dalam NamaNya dan MERASAKAN kebebasan saat menerima Dia sebagai juruselamat pribadi kami”


Setelah mendengar jawaban si pendeta, reporter ini tertunduk menatap kakinya di lantai. Melihat ini si pendeta bertanya dengan lembut “Pernahkah kamu melihat seorang yang berdoa begitu khusyuk dan mungkin saja menangis dalam doanya?” mendengar pertanyaan ini si reporter yang tertunduk merasakan air keluar dari matanya saat dia menjawab “ya, Ibu saya...” “Dan menurutmu pada siapa ibumu berdoa seperti itu?” “Saya rasa dia sedang berdoa kepada...TUHAN” jawab wanita ini menangis.


“Dengar nak, Tuhan bekerja dengan cara yang sangat ajaib dan sangat misterius. Saat saya berkata Tuhan sedang bergerak maksudnya adalah Dia bergerak dari hati ke hati, Dia mengetuk pintu mereka dan menunggu hingga ada orang yang bersedia membuka hatinya untuk Dia. Maukah kamu membuka hatimu untuk Dia?”


“Saya tidak yakin...” jawab si repoter itu ragu-ragu. Si pendeta tersenyum dan berkata “Ya tidak apa-apa, tapi bolehkah saya tetap mendoakan kamu?” “Tentu saja..” si reporter menjawab lembut. Setelah si pendota berdoa reporter ini berdiri mengambil alat rekamannya di meja dan bersalaman dengan pendeta sambil mengucapkan selamat tinggal. Si repoter sedang berjalan memegang gagang pintu untuk keluar dari cafe saat dia ingat satu pertanyaan lagi dan berbalik ke arah pendeta yang sedang memperhatikan dia keluar, repoter ini bertanya “Apa inti dari semua interview ini?”


“Kau boleh menulis di artikelmu, inti dari semuanya adalah KARENA TUHAN ITU BESAR.” Sang pendeta menjawab santai. Mendengar jawabnya si reporter tersenyum dan pergi.


Jadi maukah kamu membuka hati bagi Dia? Atau menjawab seperti reporter tadi “aku tidak yakin..” Yehezkiel 38:23 “Aku akan menunjukkan kebesaran-Ku dan menyatakan diri-Ku di hadapan bangsa-bangsa yang banyak, dan mereka akan mengetahui bahwa Akulah Tuhan”

Ditulis Oleh: Thomas Mulia Contributor @GodBesideUs

0 comments:

Posting Komentar