TanganNya berdarah saat memikul salib itu, sakit kepala menyerang sangat
hebat pada DiriNya saat darah bercucuran dengan deras keluar dari
DahiNya. TubuhNya penuh dengan cambukkan, wajahNya tak dapat dikenali
lagi karena telah penuh dengan luka dan memar. Dia ditinggalkan
murid-muridNya, orang meludahi tubuhNya dan menyiksa habis-habisan
DiriNya. Tapi masih saja ditengah penderitaan yang begitu berat dan
sepertinya tak ada habisnya Dia masih mau berdiri tegak dan memikul
salibNya itu menuju bukit Golgota. Sepanjang jalan yang tak ber-aspal
tapi malah penuh dengan bebatuan yang menyakitkan kaki jika diinjak, Dia
dengan rela tanpa keraguan berjalan perlahan-lahan dengan beban yang
begitu berat menaiki bukit yang terjal hanya untuk mengorbankan DiriNya
sendiri.
TelingaNya dengan jelas mendengar semua hinaan orang Yahudi yang ditunjukkan pada DiriNya saat berjalan memikul salib. Tapi Ia tak membalas semua hinaan itu, membuka mulutNya pun tidak. Dengan diam Dia menanggung penderitaan yang begitu berat demi keselamatan orang-orang yang menghinanya itu. Harga begitu mahal dibayarNya saat memberikan keselamatan tapi saat Ia mati tergantung diatas kayu salib itu, tak satu orangpun yang menyaksikan kematiaanNya di atas bukit itu mengucapkan kata "Terima kasih.."
TelingaNya dengan jelas mendengar semua hinaan orang Yahudi yang ditunjukkan pada DiriNya saat berjalan memikul salib. Tapi Ia tak membalas semua hinaan itu, membuka mulutNya pun tidak. Dengan diam Dia menanggung penderitaan yang begitu berat demi keselamatan orang-orang yang menghinanya itu. Harga begitu mahal dibayarNya saat memberikan keselamatan tapi saat Ia mati tergantung diatas kayu salib itu, tak satu orangpun yang menyaksikan kematiaanNya di atas bukit itu mengucapkan kata "Terima kasih.."