Selasa, 06 Mei 2014

Mengampuni Sampai Kapan?

TanganNya berdarah saat memikul salib itu, sakit kepala menyerang sangat hebat pada DiriNya saat darah bercucuran dengan deras keluar dari DahiNya. TubuhNya penuh dengan cambukkan, wajahNya tak dapat dikenali lagi karena telah penuh dengan luka dan memar. Dia ditinggalkan murid-muridNya, orang meludahi tubuhNya dan menyiksa habis-habisan DiriNya. Tapi masih saja ditengah penderitaan yang begitu berat dan sepertinya tak ada habisnya Dia masih mau berdiri tegak dan memikul salibNya itu menuju bukit Golgota. Sepanjang jalan yang tak ber-aspal tapi malah penuh dengan bebatuan yang menyakitkan kaki jika diinjak, Dia dengan rela tanpa keraguan berjalan perlahan-lahan dengan beban yang begitu berat menaiki bukit yang terjal hanya untuk mengorbankan DiriNya sendiri.



 TelingaNya dengan jelas mendengar semua hinaan orang Yahudi yang ditunjukkan pada DiriNya saat berjalan memikul salib. Tapi Ia tak membalas semua hinaan itu, membuka mulutNya  pun tidak. Dengan diam Dia menanggung penderitaan yang begitu berat demi keselamatan orang-orang yang menghinanya itu. Harga begitu mahal dibayarNya saat memberikan keselamatan tapi saat Ia mati tergantung diatas kayu salib itu, tak satu orangpun yang menyaksikan kematiaanNya di atas bukit itu mengucapkan kata "Terima kasih.."


Beberapa saat lalu aku kepikiran satu pertanyaan "Mengampuni Sampai Kapan?" Memang tidak enak, tapi kita semua harus menerima suatu kenyataan jika dalam hidup ini pasti ada orang yang pernah menyakiti hati kita. Dan lucunya orang yang paling berpotensi menyakiti kita adalah orang-orang terdekat kita. Dan seakan belum cukup dengan rasa sakit hati yang datang, kita juga harus menerima kenyataan jika rasa sakit hati itu tak hanya datang sekali seumur hidup.

 Rasa sakit hati itu akan datang berkali kali seperti anak panah yang ditembakkan terus-menerus. Bahkan murid Yesuspun pernah bertanya "Sampai kapan harus mengampuni saudara yang bersalah pada kita?" Yesus menjawab "Sampai tujuh puluh kali tujuh kali" suatu angka yang banyak bukan? Jawaban Yesus jelas menujukkan jika dalam hidup ini tak akan cukup jika hanya memberi satu pengampunan!! Tapi bukankah terlihat mustahil melakukan hal ini? Mengampuni orang yang sama berkali-kali, atau mengampuni seseorang yang telah mengahancurkan hidup kita bukanlah suatu perkara yang mudah . Pertanyaan ini membuatku frustasi sampai akhirnya, aku tak mengajukan pertanyaan ini pada diriku sendiri tapi mengajukannya pada Tuhan, "Tuhan sampai kapan harus mengampuni?"

JawabNya


"Sampai tak ada lagi nafas yang tersisa dalam tubuh"

"Sampai mahkota duri menjadi hiasan diatas kepala"

"Sampai tak ada lagi tubuh yang masih bersih karena tidak terkena cambukkan"

"Sampai darah mengalir deras dari seluruh tubuh yang keluar dari luka yang menyakitkan"

"Sampai tak ada lagi kata hinaan dan cacian yang bisa keluar dari mulut karena semua telah habis dikatakan oleh para pembenci"

"Sampai Tangan dan Kaki berlubang karena paku"

"Sampai mati diatas kayu salib"

Iya, pengorbanan Tuhan diatas kayu salib adalah contoh pengampunan terbesar. Orang yang menyakiti kita berkali-kali itu ada, betul. Orang yang mungkin telah menghancurkan hidup kita itu ada, betul. Orang yang membuat hati kita begitu marah dan kesal karena perbuatannya itu ada, betul. Tapi betul juga jika ditengah kegelapan kebencian dan hati yang terluka ada kasih Tuhan yang menyelamatkan
. Kita yang telah mecicipi kasih karunia Tuhan itu wajib menjadi ciptaan baru yang disempurnakan menjadi semakin serupa denganNya. Dan Mengampuni orang lain adalah proses menuju kesempurnaan itu yang pasti akan dialami oleh semua anak-anak Tuhan. Sampai kapan harus mengampuni? Sampai akhirnya Bapa disurga berkata "Sudah cukup anakKu, mari pulang ke Rumah bersama denganKu"


Ditulis Oleh: Thomas Mulia. Contributor @GodBesideUs

0 comments:

Posting Komentar