Minggu, 24 Maret 2013

You Will Never Walk Alone



Nama dia Amanda. Teman-temannya menjulukinya Amanda yang tegar. Amanda dipanggil begitu bukannya tanpa alasan, jika dilihat dari segala pergumulan hidupnya yang telah ia lalui hingga sekarang memang sepertinya dia pantas dijuluki seperti itu. Amanda adalah anak tunggal, ia telah menjadi yatim piatu sejak berumur enam tahun karena Ayah dan ibunya meninggal karena kecelakaan mobil. Sejak itu ia tinggal bersama Tante dan pamannya. Sayang, pada umur sembilan tahun Tante dan pamannya bercerai sehingga mereka pisah rumah, saat itu Amanda memutuskan untuk tinggal bersama tantenya.

Di suatu malam saat Amanda berumur sepuluh tahun dan sedang tidur di malam hari, Amanda mendengar suara letusan tembakan pistol. Terkejut karena suara itu, Amanda segera keluar dari kamarnya menuju kamar tantenya. Betapa kagetnya Amanda karena setelah membuka pintu kamar tantenya, dia melihat tantenya telah meninggal di tempat tidur dengan luka tembakan di dada. Paman Amanda berdiri di depan mantan istrinya itu sambil memegang pistol yang telah merengut nyawanya. Amanda kecil hanya bisa menangis sejadi-jadinya melihat pemandangan ini saat pamannya berkata "Selamat tinggal Amanda..." dan dia mengarahkan pistol ke kepalanya dan menembak dirinya sendiri.


 Sejak saat itu Amanda tinggal di panti asuhan. Pada umur empat belas tahun, Amanda yang tak punya apa-apa lagi saat itu, berjalan menyusuri trotoar pada hari minggu. dia merasa kosong, Semua yang ia miliki telah direngut dari darinya. Amanda merasa sendirian dan menganggap tak ada seorangpun yang peduli pada dia. Saat sedang merenungkan segala hal buruk yang menimpa hidupnya ini sambil berjalan, Amanda melihat Gereja di ujung jalan. Amanda tak mengenal Tuhan sama sekali, memang waktu kecil ibunya pernah mengajari Amanda untuk berdoa, tapi itu sudah lama sekali.

 Merasa tak ada salahnya pergi, dia memutuskan untuk mengikuti ibadah itu sendirian. Saat masuk, ia langsung duduk dibagian paling belakang. Saat duduk ia memandang sekeliling dan melihat banyak orang yang datang bersama dengan keluarga mereka. Dia melihat seorang ibu yang menggandeng anaknya yang masih kecil, seorang Ayah yang sedang memeluk putranya dan sepasang pria dan wanita yang telah bertunangan duduk di depan dia. Merasa makin terkucil sendirian karena pemandangan ini Amanda berkata pada dirinya, kenapa waktu kecil gw ga pernah datang ke Gereja sama orang tua gw?

 Selama ibadah Amanda masih tetap merasa sendirian. Amanda mendengar jemaat bernyanyi bersama-sama mengatakan "Allah peduli, Allah mengerti segala persoalan yang sedang terjadi..."  tadinya Amanda juga ikut bernyanyi hingga akhirnya dia berhenti di tengah lagu karena merasa lagunya tak masuk akal. Tuhan mengerti? Tuhan peduli? Yang benar saja, jika Ia memang mengerti dan peduli maka seharusnya Ia ga biarin orang tua gw meninggal! Kata Amanda pada dirinya sendiri.

Setelah nyanyian selesai dikumandangkan, Pendetapun naik ke atas mimbar. Si Pendeta berbicara tentang Kasih Tuhan, Pendeta itu berkata "Hidup ini sulit, iya itu benar. Hidup ini penuh dengan rintangan, iya itupun benar. Tapi juga benar bahwa di hidup yang tak memiliki kepastian ini ada Tuhan yang selalu ada bersama kita orang percaya untuk melewati segala percobaan di hidup kita." Pendeta itu terus mengatakan bahwa Tuhan mengasihi manusia dan tak akan meninggalkan mereka yang percaya padaNya.

 Saat mendengar khotbah pendeta, Amanda tak hentinya mengernyitkan keningnya tanda meragukan perkataan si pendeta. Penjelasan si pendeta sepertinya tak masuk akal bagi dirinya, Kasih Tuhan tak terbatas? Tuhan selalu ada menemani? Tiada yang mustahil bagi Tuhan? Semua itu tak pernah di alami Amanda seumur hidupnya, jadi dia menggangap semua omongan pendeta itu hanyalah lelucon. Hingga akhirnya Amanda mendengar perkataan pendeta yang membuat ia mendengar khotbah itu lebih serius, perkataan itu adalah "Tuhan Yesus sayang kamu..." diam sejenak, pendeta itu melanjutkan "Apapun beban hidupmu sekarang, Tuhan Yesus tetap ada bersamamu. Dia lebih dari cukup untuk menghiburmu, kasihNya begitu indah. Percayalah, begitu kau membuka pintu hatimu dan membiarkan Tuhan masuk kedalamnya, hidupmu tak akan pernah menjadi sama lagi."

 entah mengapa perkataan ini menyentuh hati Amanda, dia mendengarkan lebih serius lagi. "Pernahkah kamu merasa sendirian? Ditinggalkan orang yang kamu sayangi? Nak, ingatlah bahwa sebenarnya kamu tak pernah ditinggalkan sendirian. Jika kamu masih bernafas, itu membuktikan Tuhan masih memberi kesempatan bagimu untuk kembali padaNya. Jangan ragukan diriNya, terimalah kasih karuniaNya karena Tuhan rindu untuk bersahabat padamu."

Amanda merasa bahwa semua perkataan pendeta ini di tunjukkan untuknya seorang, seolah-olah pendeta itu tidak sedang berbicara dengan orang banyak tapi hanya dengan dirinya sendiri empat mata. Perkataan pendeta selanjutnya membuat Amanda berdiri dan maju kedepan "Jika memang kamu adalah orangnya, seorang yang telah ditelantarkan begitu lama, seorang yang merasa dirinya tak layak dan tak berguna. Jika kamu adalah orang yang merasa hidup ini tak ada lagi artinya, maka majulah kedepan! Biar saya kenalkan pada anda Seorang Pribadi yang dapat menemani anda selamanya."

Amanda perlahan maju bersama beberapa orang lainnya, dia juga tak tahu kenapa ia pergi kedepan, dia hanya merasa itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Saat Amanda sampai didepan dan berhadapan dengan pendeta, pendeta itu bertanya "Maukah kamu menerima Yesus sebagai juruselamat Pribadimu?" Amanda menjawab, "Kenapa aku harus menerima diriNya? Bisakah Ia mengembalikan segala hal yang telah direngut dari hidupku? Bisakah Ia menyembuhkan luka hatiku? Bisakah Ia mengangkat beban dipundakku yang begitu berat? Tolong pak, berikanlah aku satu alasan yang bagus untuk menerima Yesus itu." Pendeta itu tersenyum, dan menjawab "Alasannya sederhana, begitu kamu menerima Yesus di hidupmu.. Kamu tak akan pernah sendirian lagi dalam menjalani hidup ini." Amanda terdiam mendengar jawaban si pendeta, hingga akhirnya ia menjawab "Iya, aku mau menerima Yesus sebagai Juru Selamat" lalu pendeta itu mengajak Amanda berdoa begini,

"Tuhan Yesus, aku mengakui bahwa Kau telah mati di atas kayu salib untuk menebus segala dosaku. Aku percaya bahwa Kau telah bangkit pada hari ketiga dan naik ke surga. Tuhan, aku mengundangMu untuk masuk kedalam hatiku dan menjadi Raja atas hidupku mulai sekarang sampai selama-lamanya, Amin."

Memang Amanda masuk ke dalam Gereja itu sendirian, tapi saat ia keluar dari gerbang Gereja itu, ia keluar bersama seorang Sahabat Sejati yang akan selalu ada menemani dia selama sisa hidupnya sampai selama-lamanya. Nama Sahabatnya itu adalah Tuhan Yesus.

Sekarang Pertanyaanya, sudahkah kamu memiliki Tuhan Yesus sebagai sahabat sejatimu? Jika kamu merasa ragu, berdoalah sama seperti Amanda berdoa. Ingatlah selalu, bersama Tuhan Yesus, you will never walk alone.

Ditulis oleh: Thomas Mulia. Contributor @GodBesideUs

4 komentar:

  1. Cerita yang sangat hebat!
    cerita ini mungkin bisa dibagikan kpd orang yg sangat membutuhkan pengharapan dalam hidupnya..^^ Tuhan Yesus memberkati kita semua^^

    BalasHapus
  2. Tentu boleh! Semoga bisa jadi berkat yaa

    BalasHapus
  3. Jadi ngerasa gag sendiri lagi.. Makasih :)

    BalasHapus