Nama dia Amanda. Teman-temannya
menjulukinya Amanda yang tegar. Amanda dipanggil begitu bukannya tanpa alasan,
jika dilihat dari segala pergumulan hidupnya yang telah ia lalui hingga
sekarang memang sepertinya dia pantas dijuluki seperti itu. Amanda adalah anak
tunggal, ia telah menjadi yatim piatu sejak berumur enam tahun karena Ayah dan
ibunya meninggal karena kecelakaan mobil. Sejak itu ia tinggal bersama Tante
dan pamannya. Sayang, pada umur sembilan tahun Tante dan pamannya bercerai
sehingga mereka pisah rumah, saat itu Amanda memutuskan untuk tinggal bersama tantenya.
Di
suatu malam saat Amanda berumur sepuluh tahun dan sedang tidur di malam hari,
Amanda mendengar suara letusan tembakan pistol. Terkejut karena suara itu,
Amanda segera keluar dari kamarnya menuju kamar tantenya. Betapa kagetnya
Amanda karena setelah membuka pintu kamar tantenya, dia melihat tantenya telah
meninggal di tempat tidur dengan luka tembakan di dada. Paman Amanda berdiri di
depan mantan istrinya itu sambil memegang pistol yang telah merengut nyawanya.
Amanda kecil hanya bisa menangis sejadi-jadinya melihat pemandangan ini saat
pamannya berkata "Selamat tinggal Amanda..." dan dia mengarahkan
pistol ke kepalanya dan menembak dirinya sendiri.
Sejak saat itu Amanda tinggal di panti asuhan.
Pada umur empat belas tahun, Amanda yang tak punya apa-apa lagi saat itu,
berjalan menyusuri trotoar pada hari minggu. dia merasa kosong, Semua yang ia
miliki telah direngut dari darinya. Amanda merasa sendirian dan menganggap tak
ada seorangpun yang peduli pada dia. Saat sedang merenungkan segala hal buruk
yang menimpa hidupnya ini sambil berjalan, Amanda melihat Gereja di ujung
jalan. Amanda tak mengenal Tuhan sama sekali, memang waktu kecil ibunya pernah
mengajari Amanda untuk berdoa, tapi itu sudah lama sekali.
Merasa tak ada salahnya pergi, dia memutuskan
untuk mengikuti ibadah itu sendirian. Saat masuk, ia langsung duduk dibagian
paling belakang. Saat duduk ia memandang sekeliling dan melihat banyak orang
yang datang bersama dengan keluarga mereka. Dia melihat seorang ibu yang
menggandeng anaknya yang masih kecil, seorang Ayah yang sedang memeluk putranya
dan sepasang pria dan wanita yang telah bertunangan duduk di depan dia. Merasa
makin terkucil sendirian karena pemandangan ini Amanda berkata pada dirinya,
kenapa waktu kecil gw ga pernah datang ke Gereja sama orang tua gw?
Selama ibadah Amanda masih tetap merasa
sendirian. Amanda mendengar jemaat bernyanyi bersama-sama mengatakan
"Allah peduli, Allah mengerti segala persoalan yang sedang
terjadi..." tadinya Amanda juga ikut bernyanyi hingga akhirnya dia
berhenti di tengah lagu karena merasa lagunya tak masuk akal. Tuhan mengerti?
Tuhan peduli? Yang benar saja, jika Ia memang mengerti dan peduli maka
seharusnya Ia ga biarin orang tua gw meninggal! Kata Amanda pada dirinya sendiri.
Setelah nyanyian selesai
dikumandangkan, Pendetapun naik ke atas mimbar. Si Pendeta berbicara tentang
Kasih Tuhan, Pendeta itu berkata "Hidup ini sulit, iya itu benar. Hidup
ini penuh dengan rintangan, iya itupun benar. Tapi juga benar bahwa di hidup
yang tak memiliki kepastian ini ada Tuhan yang selalu ada bersama kita orang
percaya untuk melewati segala percobaan di hidup kita." Pendeta itu terus
mengatakan bahwa Tuhan mengasihi manusia dan tak akan meninggalkan mereka yang
percaya padaNya.
Saat mendengar khotbah pendeta, Amanda tak
hentinya mengernyitkan keningnya tanda meragukan perkataan si pendeta.
Penjelasan si pendeta sepertinya tak masuk akal bagi dirinya, Kasih Tuhan tak
terbatas? Tuhan selalu ada menemani? Tiada yang mustahil bagi Tuhan? Semua itu
tak pernah di alami Amanda seumur hidupnya, jadi dia menggangap semua omongan
pendeta itu hanyalah lelucon. Hingga akhirnya Amanda mendengar perkataan
pendeta yang membuat ia mendengar khotbah itu lebih serius, perkataan itu
adalah "Tuhan Yesus sayang kamu..." diam sejenak, pendeta itu
melanjutkan "Apapun beban hidupmu sekarang, Tuhan Yesus tetap ada
bersamamu. Dia lebih dari cukup untuk menghiburmu, kasihNya begitu indah.
Percayalah, begitu kau membuka pintu hatimu dan membiarkan Tuhan masuk kedalamnya,
hidupmu tak akan pernah menjadi sama lagi."
entah mengapa perkataan ini menyentuh hati
Amanda, dia mendengarkan lebih serius lagi. "Pernahkah kamu merasa
sendirian? Ditinggalkan orang yang kamu sayangi? Nak, ingatlah bahwa sebenarnya
kamu tak pernah ditinggalkan sendirian. Jika kamu masih bernafas, itu
membuktikan Tuhan masih memberi kesempatan bagimu untuk kembali padaNya. Jangan
ragukan diriNya, terimalah kasih karuniaNya karena Tuhan rindu untuk bersahabat
padamu."
Amanda merasa bahwa semua perkataan
pendeta ini di tunjukkan untuknya seorang, seolah-olah pendeta itu tidak sedang
berbicara dengan orang banyak tapi hanya dengan dirinya sendiri empat mata.
Perkataan pendeta selanjutnya membuat Amanda berdiri dan maju kedepan
"Jika memang kamu adalah orangnya, seorang yang telah ditelantarkan begitu
lama, seorang yang merasa dirinya tak layak dan tak berguna. Jika kamu adalah
orang yang merasa hidup ini tak ada lagi artinya, maka majulah kedepan! Biar
saya kenalkan pada anda Seorang Pribadi yang dapat menemani anda
selamanya."
Amanda perlahan maju bersama
beberapa orang lainnya, dia juga tak tahu kenapa ia pergi kedepan, dia hanya
merasa itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Saat Amanda sampai didepan
dan berhadapan dengan pendeta, pendeta itu bertanya "Maukah kamu menerima
Yesus sebagai juruselamat Pribadimu?" Amanda menjawab, "Kenapa aku
harus menerima diriNya? Bisakah Ia mengembalikan segala hal yang telah direngut
dari hidupku? Bisakah Ia menyembuhkan luka hatiku? Bisakah Ia mengangkat beban
dipundakku yang begitu berat? Tolong pak, berikanlah aku satu alasan yang bagus
untuk menerima Yesus itu." Pendeta itu tersenyum, dan menjawab
"Alasannya sederhana, begitu kamu menerima Yesus di hidupmu.. Kamu tak
akan pernah sendirian lagi dalam menjalani hidup ini." Amanda terdiam
mendengar jawaban si pendeta, hingga akhirnya ia menjawab "Iya, aku mau
menerima Yesus sebagai Juru Selamat" lalu pendeta itu mengajak Amanda
berdoa begini,
"Tuhan Yesus, aku mengakui
bahwa Kau telah mati di atas kayu salib untuk menebus segala dosaku. Aku
percaya bahwa Kau telah bangkit pada hari ketiga dan naik ke surga. Tuhan, aku
mengundangMu untuk masuk kedalam hatiku dan menjadi Raja atas hidupku mulai
sekarang sampai selama-lamanya, Amin."
Memang Amanda masuk ke dalam Gereja
itu sendirian, tapi saat ia keluar dari gerbang Gereja itu, ia keluar bersama
seorang Sahabat Sejati yang akan selalu ada menemani dia selama sisa hidupnya
sampai selama-lamanya. Nama Sahabatnya itu adalah Tuhan Yesus.
Sekarang Pertanyaanya, sudahkah kamu
memiliki Tuhan Yesus sebagai sahabat sejatimu? Jika kamu merasa ragu, berdoalah
sama seperti Amanda berdoa. Ingatlah selalu, bersama Tuhan Yesus, you will
never walk alone.
Ditulis oleh: Thomas Mulia. Contributor
Cerita yang sangat hebat!
BalasHapuscerita ini mungkin bisa dibagikan kpd orang yg sangat membutuhkan pengharapan dalam hidupnya..^^ Tuhan Yesus memberkati kita semua^^
boleh dishare kak ?
BalasHapusTentu boleh! Semoga bisa jadi berkat yaa
BalasHapusJadi ngerasa gag sendiri lagi.. Makasih :)
BalasHapus