Malam yang gelap menyelimuti saat aku sedang merenung.
Tetesan air hujan kudengar saat air dari langit itu jatuh menghantam tanah. Aku
sendirian memandang jendela dan hanya bisa melihat kegelapan melaluinya. Begitu
sepi, aku tak bisa mendengar suara apapun selain hembusan nafasku sendiri. Aku
mencoba memejamkan mataku sejenak untuk menyelami lebih dalam keheningan ini.
Seharian mendengar kebisingan kota metropolis yang sepertinya tak ada habisnya
membuatku menghargai keheningan yang bisa aku dapat sekarang. Setelah puas
merasakan keheningan malam, aku membuka mataku dan memandang ke depan. Kulihat
Alkitab didepan mejaku dan mengambilnya untuk membacanya.
Sebenarnya ini bukan hal yang biasa aku lakukan, dilihat
dari Alkitabku yang terlihat masih baru padahal telah kubeli sejak 5 tahun yang
lalu membuktikan aku jarang sekali membukanya. Tapi entah mengapa malam itu aku
terdorong untuk membuka kembali Alkitabku dan membacanya secara acak. Saat
tanganku membalik-balikan halamannya secara asal saja, jari-jariku terhenti di
kitab 1 Petrus ayat 24 yang tertulis “Ia
sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita,
yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu
telah sembuh.” Aku membaca ayat ini berulang-ulang dalam hati, dan
mencoba merenungkannya.
Sebelum membaca ayat ini sebenarnya aku hampir lupa jika
segala dosaku telah ditebus oleh Tuhan Yesus. Selama ini aku hanya hidup
seolah-olah tidak memiliki Tuhan. Aku adalah seorang Kristen ‘Biasa saja’. Aku
tak setiap minggu ke Gereja, kebanyakan aku pergi kesana hanya disaat orang
tuaku memaksaku melakukannya atau teman-teman mengajakku untuk pergi. Bahkan
seingatkau walau sekarang telah bulan Juni, aku hanya pergi ke Gereja sebanyak
5 kali tahun ini. 2 diantaranya saat perayaan tahun baru dan juga hari paskah.
Disaat aku membaca ayat ini aku langsung tersadar bahwa
selama ini aku telah menyia-nyiakan keselamatan yang telah Tuhan berikan. Aku
membiarkan Tuhan mati menggantikan diriku dan berlaku seolah-olah Dia tak
pernah melakukannya. Bahkan aku sama sekali tak pernah menaikkan ucapan syukurku
pada Tuhan atas pengorbananNya bagiku. Begitu mudah aku mengikut teman-temanku
melakukan perbuatan dosa hingga akhinya karena telah aku lakukan berkali-kali
perbuatan yang mendukakan hati Tuhan itu membuatku merasa bahwa hal-hal itu
bukan lagi dosa.
Hidup dengan cara dunia terlihat begitu enak dan
mengasyikan sehingga aku memilihnya dan pergi jauh meninggalkan jalan Tuhan. Walau
terkadang aku tersadar hidup seperti ini hanya akan menghancurkan masa depanku
tapi toh aku tetap hidup didalamnya.
Tapi pada malam itu aku sadar aku harus kembali padaNya.
Dengan segala kelemahanku aku berdoa pada Tuhan memohon ampun padaNya. Aku berterima
kasih kepada Tuhan karena malam itu telah mengingatkanku kembali akan kasihNya
yang begitu luar biasa.
Pengorbanan Dia telah memberiku kesempatan kedua untuk
hidup, dan kesabaranNya atas segala kesalahan-kesalahan yang telah aku perbuat
membuatku makin terkagum akan kebesaranNya. Ya, memang seharusnya aku yang
digantung di atas kayu salib tapi semata-mata hanya karena kasihNya bagiku, Dia
rela menggantikanku. Terima kasih Bapa untuk segala kebaikan dan kasihMu, mulai
sekarang hingga selama-lamanya jadilah kehendakMu dalam hidupku.
Ditulis Oleh: Thomas Mulia. Contributor @GodBesideUs
The great story,,(y)
BalasHapusTuhan Yesus memberkati
Be blessed!
BalasHapus