David mengutuki kebodohannya sendiri. Dia sedang
mengandarai Mobil sedannya dengan kecepatan tinggi ditengah guyuran hujan. Saat
itu David sedang berada ditengah kota New York pada jam pulang kantor.
Dimana-mana terlihat orang-orang dengan pakaian kantor keluar lalu lalang dari
gedung-gedung khas kota metropolis itu dengan tergesa-gesa. Hari ini bisa
dibilang hari terburuk dalam hidup David. Saham sedang kacau balau, NASDAQ yang
merupakan bursa saham terbesar AS dikabarkan hari ini turun lebih dari tujuh
persen yang menandakan Amerika Serikat sedang menghadapi jurang resesi lagi.
David bekerja sebagai konsultan keuangan di salah satu perusahaan terbesar di
New York, jadi berita jatuhnya bursa saham AS sudah cukup membuat dirinya down.
Siang tadi saat David sedang makan siang di restoran
yang ada dilantai dasar kantornya, tiba-tiba rekan sekantornya mendatanginya
dan memberitahu jika Boss meminta David untuk segera menemuinya. David yang
baru memakan tiga sendok saladnya, langsung menuju lift untuk menghadap bossnya
itu. Didepan ruangan bossnya, David mengetuk dan mendengar suara “Masuklah..”
dari dalam ruangan.
Boss David
sedang duduk dikursinya dibelakang meja saat David masuk, dan dengan gerakan
tangannya, dia menyuruh David duduk dikursi yang ada diseberang mejanya. “Jadi
begini David, aku akan langsung berbicara ke intinya saja. Perusahaan sekarang
sedang melakukan langkah penghematan besar-besaran. Seperti yang kamu ketahui, Client
kita tak bisa membayar jasa konsultan keuangan sebesar dulu lagi. Banyak client
kita yang telah bangkrut atau pindah ke perusahaan lain yang menawarkan biaya
jasa yang jauh lebih murah dari perusahaan kita.” Boss David terdiam sejenak
sebelum melanjutkan, “Memang berat, tapi kami harus ‘membiarkan pergi’ beberapa
karyawan. David, kamu salah satu orang yang harus pergi itu..”
David hanya terdiam. Dia telah bekerja diperusahaan
itu lebih dari lima tahun dan seingatnya dia tak pernah melalukan suatu hal
yang merugikan perusahaannya, jelas dia merasa tidak adil dengan keputusan bossnya
itu. Setelah keluar dari ruangan bossnya, David dpenuhi dengan kemarahan.
Rasanya dia ingin memukul wajah bossnya itu, tapi melihat badan bossnya jauh
lebih besar dan kekar dibanding David, dia mengurungkan niatnya itu.
Tapi yang membuat David hancur hati pada hari itu
bukanlah karena saham AS rontok atau bossnya memecat dia. Sore hari, David
sedang membereskan meja kantornya saat smartphonenya berdering. David
mengangkatnya, dan mendengar suara istrinya ditelpon itu berkata dengan jelas
“Aku minta cerai…” David langsung shock saat mendengarnya. Memang tiga bulan terakhir hubungan David dan istrinya
tidak lagi harmonis. Bahkan sudah seminggu belakangan mereka berdua tidak lagi
bicara satu sama lain. Sama seperti keluarga Amerika lainnya yang sedang
berjuang keras bangkit dari resesi, yang diributkan David dan istrinya adalah
soal uang.
Jadi begitulah, David dengan kesal mengemudikan
mobilnya dengan kecepatan tinggi begitu keluar dari kantornya. Hari ini adalah
hari terburuk dalam kehidupan David, semua hal yang telah dia bangun selama
bertahun-tahun hancur begitu saja hanya dalam satu hari. Segala hal berjalan
tidak adil baginya, David membenci bossnya yang telah memecat dia dan juga
sangat marah kepada istrinya yang begitu saja minta cerai darinya.
Lalu tiba-tiba saja, saat sedang memacu mobilnya
dengan kecepatan tinggi. Mobil sedan yang dikendarai David oleng dan menabrak
tiang listrik didepannya. Duaaaaaak!! Suara keras terdengar saat kap depan
mobil David itu menghantam tiang didepannya. Orang-orang langsung berdatangan
untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kepala David terasa begitu
pusing, sepertinya kepala dia terbentur stir kemudi saat menabrak tadi.
Samar-samar dia mendengar suara teriakan orang dari kejahuan dan suara ledakan.
Setelah itu, yang ada hanyalah kegelapan dan keheningan…
***
David membuka matanya perlahan-lahan,
cahaya matahari yang menyinari matanya membuat dirinya menjadi pusing. Dia
berusaha menutupi cahaya matahari yang mengenai wajahnya itu dengan tangannya,
tapi itu sia-sia saja. David merasakan sedang terbaring ditempat tidur yang
sangat empuk, dan tercium aroma obat yang menyengat. “Bagaimana keadaanmu?”
Tanya suara lembut disamping David. Dia mencoba melihat sisumber suara yang
berbicara kepadanya, orang itu adalah seorang pria berpakaian putih dengan
stetoskop menggantung dilehernya. “Pusing, aku merasakan pusing hebat…” kata
David lemah, dia berusaha memegang dahinya yang ternyata telah diperban tebal.
“tiga tulang rusuk yang patah, tangan kanan
retak dan pendarahan hebat dikepala… apa itu sebutannya, ah ya.. mujizat.
Sebuah mujizat kamu masih bisa bernafas sekarang.” Kata dokter itu ringan,
seolah-olah dia hanya sedang menjelaskan cuaca kepada David. “Berapa lama aku
tak sadarkan diri?” Tanya David, dia merasa sudah berminggu-minggu tak
menggerakkan badannya, seluruh tulangnya terasa begitu kaku.
“kamu tak sadarkan diri kurang lebih selama tiga
hari.” Dokter itu menjawab. “Oke, jadi hal terakhir apa yang kamu ingat sebelum
pingsan?” Dokter itu bertanya pelan pada David. “Siapa kamu?” David malah
berbalik bertanya bingung, sepertinya dia belum sepenuhnya sadar. “Oh ya,
maafkan aku karena belum memperkenalkan diri sebelumnya. Namaku adalah Simon
Dimmite, aku adalah Dokter yang bertanggung jawab terhadapmu. Sekarang kamu
sedang berada di Rumah Sakit ‘Dimmite’ Tuan David, ini adalah Rumah Sakit yang
didirikan Kakek aku bertahun-tahun yang lalu.” Dimmite? Nama yang aneh pikir
David. Terdengar seperti bom dynamite saja
sebutannya, tapi David menolak menanyakan soal nama ini lebih jauh.
“Jadi, kembali ke pertanyaanku tadi..
hal terakhir apa yang kamu ingat sebelum tabrakan?” Dokter Simon kembali
bertanya. “hmm, aku ingat saat itu sedang sangat marah. Pikiranku sedang tidak
jernih, hujan lebat membuatku sulit melihat kaca depan mobil. Dan tiba-tiba
saja aku kehilangan kendali dan oleng menabrak tiang listrik.” Jawab David
terputus-putus, tidak mudah baginya mengingat kejadian yang hampir merengut
nyawanya ini. “Apakah saat itu kamu sedang dalam pengaruh alkohol?” Dokter
Simon melanjutkan pertanyaannya, entah mengapa nada bicaranya seperti polisi
yang sedang menginterograsi kriminal.
“Alkohol? Tentu tidak! Aku sudah
bertahun-tahun tidak minum lagi sejak aku telah…” David tidak menyelesaikan
jawabannya. “Kamu tidak minum lagi sejak kamu telah apa?” sepertinya Dokter
Simon belum puas dengan jawaban David. “Sejak aku telah menikah…” Jawab David
lemah. Tiba-tiba David mengingat istrinya itu, apakah dia sudah datang untuk
menjengukku? Pikir David. “Begitu ya, kabar baiknya Tuan David, sepertinya
kamu tak geger otak karena kamu masih bisa mengingat kejadian yang hampir
membunuhmu itu dengan baik. Kabar buruknya, dilihat dari kondisimu sekarang
paling tidak butuh dua sampai tiga bulan lagi hingga akhirnya kamu bisa pulih
total. Jadi selama disini aku harap kamu jangan banyak pikiran dulu dan ikuti
semua anjuran dokter dan perawat.” Kata Dokter Simon datar. “Dok, apakah selama
aku pingsan ada orang yang menjengukku?” David bertanya. “Ya, beberapa kali ada
orang-orang berpakaian formal datang untuk melihat keadaanmu saat kamu tidak
sadarkan diri. Tapi untuk hari ini sepertinya belum ada yang datang menjengukmu.”
Pakaian formal? Pasti mereka hanya teman sekantorku.. kata David dalam hatinya. “Selain itu Dok, apakah ada yang lain
telah datang?” David kembali bertanya penuh harap. “Tidak ada, sepertinya tidak
ada lagi yang telah datang menjengukmu.” David hanya terdiam mendengar jawaban
Dokter Simon. “Baiklah kalo begitu, cobalah untuk istirahat sebentar. Aku akan
kembali lagi setelah memeriksa pasien yang lain. Have a good day Pak David”
kata Dokter Simon sambil berjalan keluar ruangan perawatan David.
David merenung diranjang itu, Istriku tak datang. Sebenci itukah dia
padaku? Sepertinya dia sudah tidak peduli lagi walaupun aku telah mati!
David berbicara pada dirinya sendiri. Tadinya David pikir, istrinya paling
tidak akan melupakan pertengkaran mereka berdua sejenak begitu mendengar
dirinya kecelakaan. Tapi istri David sepertinya sudah tak mau ada urusan lagi
dengannya, dan memilih mengacuhkan David yang sedang sekarat di rumah sakit.
Tentu saja hal ini membuat David benar-benar mara, ini semua karena istri dan bossku! Seandainya saja mereka berdua
berlaku adil padaku pasti kejadian ini tak akan pernah terjadi! Dasar sialan! Kata
David dengan kesal pada dirinya sendiri. Dia mengepalkan tangannya begitu kuat
hingga tertinggal bekas kuku yang dalam pada telapak tangannya itu.
David merasa begitu kosong, segala hal
sepertinya berjalan salah bagi dirinya. Kecelakaan, kehilangan pekerjaan dan
digugat cerai istrinya membuat dirinya merasa menjadi orang tersial dimuka bumi.
Dia menjadi sangat putus asa dan merasa sangat marah kepada orang-orang yang
telah menyakitinya. Disaat tangan David menyentuh bagian kanan atas ranjangnya
dengan tangan, dia mendapati dibagian ranjangnya itu ternyata basah terkena
air. Dia memandang langit-langit, dan melihat ada tanda bocor disitu. Rupanya atapnya bocor, sempurna sudah
penderitaanku, sudah sekarat, sekarang aku harus tertidur di ranjang yang basah
karena atap yang bocor! David makin merasa kesal.
Tak beberapa lama Dokter Simon kembali dan
menyuntikkan David beberapa obat-obatan ke tubuhnya. “Obat ini untuk membuatmu
tenang…” Kata Dokter Simon singkat. Walau baru bertemu, David langsung tahu
jika Dokter Simon adalah orang yang dingin dari cara bicara Dokter itu padanya.
David kira, Dokter Simon akan langsung pergi meninggalkannnya lagi setelah
menyuntik dirinya, tapi ternyata Dokter Simon malah mengambil kursi disudut
ruangan dan duduk disebelah ranjang David. Setelah itu yang ada hanya
keheningan, mereka berdua tak saling berbicara hanya terdiam tanpa suara.
Akhirnya David yang sudah daritadi BT,
tak tahan lagi karena Dokter itu hanya memandanginya tanpa sebab. David berkata
“Apa yang Dokter lakukan disini?” Dokter Simon tersenyum kecil mendengar pertanyaan
David, bahkan senyumnya itu begitu dingin pikir David. “Sekarang, aku sedang
memandang seorang yang seumur hidupnya akan dipenuhi dengan penderitaan dan
rasa iba pada dirinya sendiri..” kata Dokter Simon. “Apa maksudmu!? Kau
meledekku ya!?” David berkata dengan marah, dia sudah cukup banyak memiliki
persoalan yang membuatnnya betul-betul marah dan ejekkan Dokter Simon sama
sekali tidak membuatnya lebih baik.
“Tidak Tuan David, aku tidak mengejekmu.
Sebaliknya aku sedang berusaha membuka matamu..” Dokter Simon berbicara tenang.
“Aku memiliki bakat aneh, hanya dalam semenit melihat data pasien, aku biasanya
bisa langsung menebak seperti apa pasien yang aku tangani. Dari penyakit yang
diderita, latar belakang pekerjaan dan riwayat hidup sipasien aku bisa membaca
banyak hal tentang hidup pasien itu. Dan saat aku membaca datamu Tuan David,
tebakanku adalah dirimu seorang yang mendambakan kesempurnaan dan sangat membenci
kegagalan.”
David membuka mulut untuk menyangkal
tebakan dokter itu, tapi sebelum dia bisa melakukannya, Dokter Simon mengangkat
tangannya tanda agar David tidak memotong perkataannya. “Tak ada yang perlu
disangkal Tuan David. Aku tahu pasti sangat berat bagi orang yang menyukai
kesempurnaan sepertimu untuk berada dikeadaanmu sekarang. Tapi walau begitu,
izinkan aku mengatakan ini padamu. Ampunilah mereka…” “Ampuni mereka? Apa
maksudmu?” David bertanya, tapi walau begitu sebenarnya dia tahu betul apa yang
dimaksud Dokter Simon.
“Tuan David, memang tubuhmu terluka
karena kecelakaan. Tapi aku bisa melihat jika hatimu terluka jauh lebih parah.
Dan menurut pengalamanku sebagai dokter, luka hati jauh lebih sulit
menyembuhkannya dibanding luka fisik. Jadi, untuk menyembuhkan luka hatimu itu,
kamu harus memaafkan mereka yang telah menyakitmu.”
“Memaafkan mereka? Kau gila ya! Mereka orang-orang yang telah menghancurkan
hidupku! Mereka yang membuatku terbaring diranjang ini tanpa harapan…” David berkata
dengan nada tinggi. Dia mulai mencurahkan rasa kesalnya yang selama ini
dipendam pada Dokter Simon tapi sepertinya Dokter itu tidak keberatan menjadi
sasaran kekesalan David. “Aku tak berbuat salah pada boss atau
istriku, tapi apa yang telah mereka lakukan? Mereka membuangku! Setelah semua
usaha terbaik yang telah aku lakukan, aku sama sekali tidak dihargai. Dan
sekarang, setelah semua hal jahat yang telah mereka lakukan, kau mengharapkan
aku untuk memaafkan mereka? Kau pasti sudah gila Dok!” Sepertinya suara David
terdengar hingga ujung lorong rumah sakit itu, tapi ia tak peduli tentang hal
itu. Dia sudah terlalu kesal dan marah, hingga sudah tak mau ambil pusing soal
apapun lagi.
“Ah, yaa… perbuatan jahat ya… hmm, Pak
David aku rasa Istri dan bosmu tidaklah berbuat jahat padamu. Satu-satunya
alasan mengapa kamu bisa terbaring dirumah sakit ini, itu semua hanya karena
kesalahanmu sendiri.” Dokter Simon berkata tenang. “Dok, aku sama sekali tidak
perduli dengan semua omong kosongmu! Keluarlah dari ruanganku sekarang! Aku tak
sudi mendengar ceramahmu tentang hidupku sendiri.” David berkata kasar, dia
sudah tak mau tau lagi soal Dokter ini. bagi David, Dokter Simon hanyalah orang
yang suka ikut campur urusan orang lain.
Dokter Simon terdiam, dia sepertinya
ingin mengatakan sesuatu lagi saat mulutnya terbuka, tapi tak jadi. Dia menutup
mulutnya dan menggantinya dengan senyuman misterius. Lalu, Dokter Simon dengan
tenang berdiri dari kursinya dan langsung membelakangi David untuk pergi keluar
ruangan itu. Sesaat sebelum keluar, Dokter Simon berkata lagi dengan suara
lembut pada David “nanti kamu akan mengerti apa maksud perkataanku ini..” dan
dengan kata-kata itu, Dokter Simon menutup pintu meninggalkan David sendirian
dalam kamarnya.
***
David membuka matanya. Dia sedang
berdiri dihutan yang lebat. Dikanan dan kiri David pohon-pohon ek tinggi besar
berjejer seolah-olah menjadi jeruji besi untuk menahan dirinya. tak ada
siapapun dihutan itu selain David. Begitu hening, David bahkan bisa mendengar
suara detak jantungnya sendiri yang berdetak kencang. “Halo…. Apa ada orang
disini?” tak ada jawaban. David melihat jalan setapak lurus ditengah hutan itu,
dan memutuskan untuk mengikuti jalan itu.
David tak menemui siapapun atau apapun
saat berjalan menyusuri jalan setapak itu. Tak ada manusia lain, hewan bahkan
tak ada burung yang terlihat melintas diatas langit hutan itu. Benar-benar
sepi, David mulai merasa takut. Sampai
mana jalan setapak ini akan berakhir? Pikir David dalam hatinya.
Lalu
tiba-tiba saja, terdengar suara kreeek…kreek…kreeek, seperti gunung yang
runtuh. David menoleh kebelakang, dan melihat jika jalan setapak yang tadi
telah dilewatinya perlahan-lahan terbelah menjadi dua sisi dengan suara keras.
David langsung panik dan berusaha lari secepat mungkin sebelum tertelan jalan
yang dia lewati itu. Suara pecahnya jalan dibelakang David semakin keras dan dekat
terdengar, keringat bercucuran dari badannya saat David berlari untuk hidupnya.
Duaaaakkk! David terjatuh karena tersandung bongkahan kayu yang entah dari mana
muncul didepannya. Saat David mencoba untuk berdiri, tanah yang terbelah itu
telah sampai kepadanya dan menelan dia. David terjatuh ke lubang hitam yang
sangat dalam, Teriakan David saat jatuh, terdengar menggema diseluruh hutan
itu.
***
David langsung terbangun dari mimpinya
itu. Mimpi yang aneh, apa yang sebenarnya
terjadi padaku? Kata David pada dirinya sendiri. Dia memandang jendela
disebelah kanannya, ternyata hari masih malam. David meraih smartphone yang ada
dimeja sebelah tempat tidurnya, ternyata jam baru menunjukkan pukul tujuh malam
lewat empat puluh menit. Pasti aku
tertidur karena obat yang diberikan Dokter Simon, David berkata dalam
hatinya. Kenapa aku bisa mimpi seperti
itu? Mimpi yang mengerikan… hutan apa itu, aku sama sekali tak pernah
mengunjungi hutan seperti itu seumur hidupku. Dan tanahnya, bagaimana mungkin
tanah itu bisa seperti benar-benar menelanku? Sungguh mengerikan!
Disaat David sedang merenung tentang
mimpi aneh yang baru dialaminya, tiba-tiba pintu kamar David terbuka dan
masuklah seorang suster gemuk berwajah ramah menghampirinya. “Selamat malam
Tuan David. Bagaimana keadaanmu? Tadi aku mampir untuk membawa makan malammu,
tapi anda tertidur jadi aku baru kembali lagi sekarang.” Suster itu membawa
mapan yang diatasnya ada makan malam milik David. “Oh ya, terima kasih Suster..” kata
David berusaha tersenyum. Seharian ini dirinya hanya berbicara dengan Dokter
Simon yang dingin dengan senyumnya yang misterius sehingga saat melihat tampang
ramah suster ini entah mengapa membuat David menjadi sedikit ceria. “Tuan
David, aku juga membawa obat yang harus kamu minum begitu selesai makan. Biar
aku letakkan obatnya di meja sebelah tempat tidurmu.” Suster itu berkata seraya
memberikan mapan makanan dihadapan David dan menaruh obat dimeja samping tempat
tidurnya.
“Berapa lama aku tertidur tadi
kira-kira?” David bertanya pada Suster ramah itu sambil memakan makan malamnya
yang ternyata terdiri dari satu mangkuk bubur putih hambar, ayam rebus dan
pudding coklat. Tentu saja ini adalah makanan khas rumah sakit. “Anda tertidur
kurang lebih dua jam Tuan David. Aku tadinya ingin membangunkanmu untuk makan
malam, tapi aku tidak enak hati karena sepertinya kamu tertidur sangat
nyenyak.” Suster itu menjawab David sambil tersenyum hangat. “Oh ya, Pak David,
ada dimana istrimu? Aku tak melihatnya seharian ini.”
“Istriku? Apa maksudmu suster? Bagaimana
kamu tahu jika aku memiliki istri?” David bertanya dengan kaget pada Suster itu.
Bagaimana mungkin suster ini tahu jika
aku sudah punya seorang Istri? Tanya David pada dirinya sendiri. “Tentu saja
aku kenal Istri anda Tuan David. Selama kamu tak sadarkan diri tiga hari ini,
istrimulah yang menjagaimu siang dan malam. Dia orang yang sangat sopan juga..”
jawab suster itu.”Tapi Dokter Simon tidak berkata demikian, dia tadi hanya
bilang jika hanya teman-teman kantorku yang datang menjenguk.” David bertanya
bingung.
“Ah, Dokter Simon baru datang
memeriksamu hari ini, Tentu saja dia belum pernah melihat istrimu. Hanya aku
Suster yang selalu menjagamu sejak pertama kali kamu masuk ke rumah sakit ini,
jadi aku tahu siapa saja yang datang dan pergi.” David benar-benar tak pernah
menyangka ini, dia pikir selama ini istrinya itu tak perduli lagi pada dirinya. Jadi pergi kemana istriku hari ini? Kenapa
dia tak datang hari ini menjengukku lagi? David bertanya-tanya dalam
hatinya. “Bukan hanya pada Istrimu, kamu juga harus berterima kasih pada bossmu
itu. Tanpa dia mungkin kita tak akan pernah bercakap-cakap seperti ini, karena
anda tak mungkin bisa selamat.” Suster itu memberitahunya. “Apa maksudmu?”
David bertanya tambah bingung lagi.
“yaah, waktu kamu dibawa kesini oleh ambulans.
Kamu telah kehilangan banyak darah. Dan tentu saja kamu tahu jika golongan
darahmu adalah jenis yang langkah. Rumah sakit saat itu sedang kehabisan stok
darah, Boss kamu adalah orang yang pertama kali datang ke rumah sakit ini untuk
melihat keadaanmu. Saat kami menjelaskan keadaanmu yang kritis karena kehabisan
darah, dia langsung sukarela memberikan darahnya padamu untuk didonor. Waah,
aku tak pernah melihat seorang yang mendonorkan darahnya sebanyak itu dalam
satu kali donor! Mukanya langsung lemas dan pucat begitu selesai transfusi karena
dia memberikan darah dalam jumlah yang melebihi batas donor. Dia sepertinya
benar-benar tak ingin kehilanganmu sehingga mau melakukan hal seperti itu.”
Suster itu menjelaskan pada David dengan senyum yang tak pernah hilang dari
wajahnya.
David langsung benar-benar merasa
bersalah. Dia selama ini tak pernah menduga soal apa yang telah dilakukan oleh
boss dan istrinya itu. David mengira jika Bos dan Istrinya itu adalah orang
jahat dan tak tahu diri. Tapi setelah mendengar cerita si suster, David
akhirnya sadar jika dirinyalah yang sebenarnya orang yang jahat dan tak tahu
diri itu. Tiba-tiba saja David teringat perkataan Dokter Simon kepada dirinya
“Ampunilah mereka….” Hati David seperti ditusuk pisau tajam saat mengingat
perkataan ini. Pintu kamar David terbuka lagi, dan
masuklah Istrinya itu. Istri David adalah seorang wanita muda berusia dua
puluhan. Berambut hitam sebahu, mata coklat pekat dan hidung mancung, Istri
David adalah seorang wanita yang cantik. David hanya bisa terdiam saat menatap
wajah istrinya itu. Walau hanya beberapa hari tak melihat istrinya, tapi entah
mengapa David merasa tidak bertemu Istrinya itu untuk waktu yang lama.
Seperti mendapat firasat yang aneh,
Suster gemuk itu berkata ini begitu melihat Istri David masuk “Aku pergi dulu,
masih ada pasien lain yang harus aku datangi dikamar sebelah…” Padahal kamar
sebelah tak ada pasien. Setelah suster pergi, Istri David duduk dikursi yang
tadi diduduki oleh Dokter Simon. “Bagaimana keadaanmu?” Tanya Istrinya itu pada
David. “A..aku, aku baik-baik saja..” David menjawab terbata-bata. Dia
benar-benar merasa bersalah pada istrinya itu. “Jadi kamu terus menjagaku saat aku tak
sadarkan diri selama ini?” David bertanya, entah mengapa dia merasa sangat malu
saat menanyakan ini pada Istrinya itu. “Iya, begitu bossmu menelponku dan
mengatakan jika kamu dalam kondisi kritis aku segara pergi kemari. Oh, David
maafkan aku! Hari itu aku benar-benar merasa kacau saat minta cerai darimu.
Kita bertengkar melulu sepanjang bulan ini, dan perekomonian sepertinya hanya
bertambah buruk. Aku benar-benar takut tentang masa depan kita jika kita terus
bersama. Tapi sekarang aku sadar, jika hari itu aku benar-benar melakukan
kesalahan. Maafkan aku David..” Saat mengatakan hal ini, matanya
berbinar-binar.. sepertinya dia akan menangis.
David mengusap pipi Istrinya itu yang
mulai dialiri air mata sambil berkata lembut “Sayang, jika kamu pikir kecelakaanku
ini karena dirimu minta cerai waktu itu, kamu salah. Tadinya memang aku
menyalahkan dirimu dan bossku atas semua hal ini. Tapi aku sekarang sadar, jika
sebenarnya yang salah adalah aku. Hari itu aku membiarkan diriku dipenuhi
dengan kebencian kepadamu dan bossku. Tapi biarlah, semuanya sekarang telah
terjadi. Yang aku mau sekarang hanyalah tak mau kehilangan kamu lagi…” Istri
David tersenyum dibalik airmatanya dan mencium pipi suaminya itu.
Sekarang David tahu jika bekas air yang
ada disamping ranjangnya tadi bukanlah akibat atap yang bocor. Bekas air itu
adalah air mata Istrinya yang telah mengering waktu menjaga David saat dirinya
masih tak sadarkan diri. Terdengar suara ketukkan pintu lalu masuklah Boss David
kedalam ruangan itu. Saat dia melihat David dan Istrinya sedang berbicara, dia
berkata “Haruskah aku kembali lagi nanti?” “Tidak apa-apa… kemarilah Pak..”
kata Istri David hangat pada boss David. Boss David tersenyum saat menanyakan
keadaanya “Jadi anak muda, bagaimana kabarmu?” “Baik Pak, sangat baik. Aku
ingin mengucapkan terima kasih atas donor darah yang telah Bapak lakukan. Tanpa
bapak, mungkin aku sudah tamat..” David berkata dengan penuh rasa terima kasih
pada bossnya itu, semua amarahnya kepada bossnya itu telah menghilang lenyap
seperti uap.
“ho..ho..ho..ho, tak perlu berterima
kasih David. Itu sudah seharusnya aku lakukan. Tak banyak orang memiliki
golongan darah yang langkah seperti kita. Sejujurnya aku juga terkejut saat
Suster memberitahu jika golongan darahmu adalah golongan darah yang sama denganku.
Tapi sudahlah, sekarang kamu sudah selamat, itu yang terpenting.” Boss David
berkata dengan ceria. “Aku kesini untuk memberitahu jika semua dana PHK kamu
telah dicairkan sepenuhnya dan telah ditransfer kerekeningmu. Mengingat
sekarang perusaahaan sudah bangkrut, jadi…” “Bangkrut? Apa maksud kamu Pak?”
David tiba-tiba memotong Bossnya itu. “Ya, bangkrut! Bangkrut! Perusahaan kita
sudah tak ada lagi sekarang. Tiga hari belakangan ini bursa saham Amerika
sedang kacau balau, yaaah… memang hal ini sudah diperkirakan sebelumnya. Maka
dari itu aku beberapa minggu belakangan mencoba menolong mereka yang telah
berjasa bagi perusahan itu…” Dan tiba-tiba Boss David tak melanjutkan
perkataanya, dia telah kelepasan berbicara.
“menolong mereka yang berjasa? Pak,
apakah itu yang telah kamu lakukan pada aku? Bapak tahu kan jika aku tidak
dipecat sebelum perusahaan bangkrut maka tak mungkin aku akan mendapat dana PHK
dan itu artinya aku tak akan mendapat uang sepeserpun sekarang. Karena jika
perusahaan bangkrut dan para karyawan masih belum diberhentikan, maka mereka hanya
mendapat dana tunjangan minimal yang kecil. Dengan memecatku waktu itu, berarti
Bapak membuatku bisa mencairkan dana tunjangan PHK yang jumlahnya jauh lebih
besar kan...” David tak menyangka jika sebenarnya yang dilakukan Bossnya itu
saat memecatnya bukan karena dia membenci dia, sebaliknya Bossnya melakukaan
itu untuk menyelamatkan dirinya.
“Kamu adalah pegawai terbaik yang pernah
bekerja denganku David. Dengan semua pengorbananmu demi perusahaan ini, aku tak
rela melihatmu pergi dari sini tanpa uang sama sekali. Aku sadar jika memecatmu
pada hari itu adalah keputusan terbaik yang pernah aku buat. Karena hanya
itulah yang dapat kulakukan untuk mengucapkan terima kasih padamu atas semua
jasamu atas perusahaan ini.” Boss David berkata tenang pada David. Mengetahui hal ini, David hanya bisa
terdiam. Satu alasan lagi bagi David untuk menambah rasa bersalahnya. Dia
benar-benar telah berpikir salah soal Istri dan bossnya itu. Bodoh! Aku benar-benar bodoh! Kata David pada dirinya sendiri.
Sekarang dia benar-benar membenci dirinya sendiri. Perkataan Dokter Simon yang
lainnya terlintas dibenak David “satu-satunya alasan kamu bisa terbaring di
rumah sakit ini, itu semua karena salahmu sendiri..” sekarang David setuju
dengan pernyataan Dokter Simon itu.
Jadi begitulah, setelah pembicaraan itu,
Boss David pamit meninggalkan David dan istrinya. Tadinya Istri David mau
menemani David di rumah sakit tapi David menyuruhnya pulang. Dia tahu dari
wajah istrinya kalo istrinya itu kelelahan karena selama ini telah menjaganya
tanpa lelah. Kecelakaan itu membuat David mempelajar banyak hal. Memang seluruh
badan David sakit, tapi dari sakitnya itulah David menjadi orang yang jauh bijaksana
dan berbeda dari dirinya sendiri dimasa lalu.
***
Cahaya matahari menerangi kota New York
yang sibuk. Saat itu baru jam tujuh pagi, tapi klakson kendaraan sudah
terdengar dimana-mana. Rumah Sakit Dimmite memang terletak ditengah kota
metropolitan itu. Bukan hanya terletak ditengah kota, Rumah Sakit itu adalah
Rumah Sakit terbesar dikota New York. Rumah Sakit bersejarah itu dikelola oleh
keluarga secara turun menurun. Didirkan pada tahun seribu Sembilan ratus dua
puluh oleh Charles Dimmite, Rumah Sakit Dimmite adalah Rumah Sakit yang populer
saat perang dunia meletus. Setelah Charles Dimmite wafat, anaknya Andrew
Dimmite mengambil alih Rumah Sakit itu. Dan setengah abad kemudian, Andrew
Dimmite yang sudah tua, mewariskan Rumah Sakit itu pada anaknya Simon.
Hingga sekarang, Dokter Simon Dimmite
masih menjabat sebagai pemilik sekaligus direktur Rumah Sakit yang didirikan
kakeknya itu. Rumah Sakit Dimmite adalah Rumah Sakit yang indah, jika jaman
sekarang Rumah Sakit modern yang menawarkan konsep minimalis muncul dimana-mana
tapi tidak dengan Rumah Sakit Dimmite. Walau telah direnovasi berkali-kali
sejak perang dunia, tapi Rumah Sakit Dimmite masih mempertahankan design
bangunan kunonya. Di Rumah Sakit itu masih dapat ditemukan lorong-lorong abad
kesembilan belas dan pilar-pilar tua namun kokoh yang telah ada sejak pertama
kali Rumah Sakit itu didirikan.
Jika dilihat dari luar, Rumah Sakit
Dimmite lebih mirip museum benda antik daripada Rumah Sakit. Tapi tak bisa
dipungkiri jika Rumah Sakit ini memiliki sejarah yang menakjubkan. Mulai dari
Presiden AS, hingga Walikota New York pernah dirawat di Rumah sakit ini. Dan
David sekarang terbaring disalah satu ruangan di Rumah Sakit antik itu, sedang
terbangun dan mengucap syukur pada Tuhan untuk kesempatan hidup yang masih
diberikan olehNya.
***
Dokter Simon masuk ke ruangan David
dipagi itu, mendapati David sedang membaca Alkitab yang telah lama tak pernah
ia baca. David begitu serius membaca buku bersampul hitam yang tebal itu hingga
tak sadar jika Dokter Simon telah ada disebalahnya dengan wajah ceria yang
jarang sekali ditunjukkan oleh Dokter itu. “Bagaimana keadaanmu , Tuan David?”
Dokter Simon menanyakan sekaligus menyadarkan David yang sedang serius membaca.
“Ah, Dokter Simon! kamu membuat saya kaget saja. Suara kamu tak terdengar saat
masuk!” David menjawab terkejut.
“Keadaanku sekarang sangat baik. Malahan
aku tak pernah merasakan keadaan yang sebaik ini seumur hidupku!” David
melanjutkan berbicara. “Jawaban aneh yang keluar dari seorang pria yang baru
saja selamat dari kecelakaan maut! Eh, Tuan David, Dirimu masih diperban disana
sini.. benarkah kamu sadar soal apa yang kamu bilang barusan? Jangan-jangan aku
juga harus memeriksa otakmu!” Dokter Simon bercanda. “hahaha, tidak Dokter.
Otakku baik-baik saja, aku hanya merasakan diriku begitu bebas sekarang.”
“Begitu bebas? Aah, Tuan David kamu
telah mengerti apa yang kukatakan kemarin ya..” Dokter Simon tersenyum, tapi
senyumnya yang sekarang bukanlah senyum dingin seperti biasanya. Senyumnya
sekarang adalah senyum yang penuh kehangatan yang jarang dia gunakan. “Ya
Dokter, aku mengerti sepenuhnya apa yang kau katakan kemarin padaku. Karena itu
maafkanlah aku atas perlakuan kasar yang telah aku perbuat padamu hari kemarin.
Aku betul-betul menyesal telah meneriakimu…” David berkata malu-malu pada
Dokter Simon.
“Tidak masalah Pak David, kamu bukanlah
orang pertama yang pernah meneriaki aku, harus kuakui sifat dingin yang aku
miliki membuat orang lain sangat mudah untuk membenciku. Tapi bagaimanapun Tuan
David, aku turut senang karena kamu telah berhasil melepaskan pengampunan bagi
mereka yang kau anggap telah menyakiti hatimu.” Dokter Simon berkata tenang.
“Iya Dok, aku mengampuni mereka. Itu
adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat, tinggal dalam kebencian dan kemarahan
sama sekali tak membawa manfaat apapun bagiku. Sebaliknya akhirnya aku sadar,
disaat aku mengampuni aku tak membebaskan mereka, sebaliknya aku melepaskan
diriku sendiri dari kepedihan yang sangat dalam.” David berkata sambil
tersenyum, kecelakaan ini memang telah benar-benar mengubah hidupnya.
Dokter Simon dan David bercakap-cakap
beberapa lama hingga akhirnya ada satu pertanyaan lagi yang menganggu David
yang ingin dia tanyakan pada Dokter Simon. “Dok, jika Dokter tak keberatan
untuk menjawab, aku ingin bertanya, eer… sebenarnya apa arti dari kata
‘Dimmite’? jujur saja aku baru pertama kali mendengar nama keluarga seaneh
itu.” David bertanya ragu-ragu, yang disambut tawa oleh Dokter Simon begitu ia
mendengar pertanyaan David.
“Tuan David yang baik, aku kira kamu
sudah tahu arti dari nama belakangku dan rumah sakit ini…” Dokter Simon berkata
dengan tawa cukup keras yang pasti bisa didengar oleh ruangan sebelah. Entah
mengapa Dokter Simon mengaggap hal ini begitu lucu, disaat David menggelengkan kepalanya
tanda jika dia benar-benar tidak tahu arti dari kata ‘Dimmite’ itu akhirnya
Dokter Simon menjawabnya dengan lebih serius.
“Baiklah, jika kamu benar-benar tidak
tahu arti kata itu. ‘Dimmite’ adalah bahasa latin yang jika diterjemahkan maka
artinya adalah pengampunan.” Dokter Simon tersenyum, dan melanjutkan “Saat
Rumah Sakit ini didirikan, saat itu adalah masa perang dunia. Orang-orang yang
datang kesini adalah mereka yang terluka karena perang. Mereka tak hanya
terluka secara fisik tapi mirip seperti kamu Tuan David, mereka juga memiliki
luka hati yang sangat dalam. Mereka dirawat dengan penuh kebencian dan amarah karena
perang. Sehingga Kakekku pada waktu itu memutuskan memakai nama keluarga
belakang kami sebagai nama belakang Rumah Sakit ini, karena ia tahu jika hati
yang damai tanpa beban kebencian adalah obat termanjur untuk segala jenis
penyakit.”
Saat Dokter Simon menjelaskan ini, mata
David telah dipenuhi dengan air mata yang tak dapat ia tahan lagi sehingga ia
membiarkan pipinya dialiri oleh air mata itu. Sekarang David tahu jika segala
hal yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini bukanlah sebuah kebetulan. Kecelakaan,
masuk Rumah sakit ini dan bertemu dengan Dokter Simon adalah seperti cara Tuhan
berbicara kepada dirinya. Dokter Simon menepuk pundak David yang sedang
menangis dan berkata dengan lembut “Tuhan sayang kamu Tuan David, jangan
khawatir lagi. Lepaskanlah bebanmu yang telah kau bawa selama bertahun-tahun
itu tanpa mengenal lelah dan biarkanlah dirimu terbebas dari segala kepahitan
dan amarah.”
Setelah Dokter Simon pergi
meninggalkannya, dengan tangan gemetar David membuka lagi Alkitabnya dan
menemukan sebuah ayat di Matius 6 ayat 14 yang berbunyi “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu di sorga akan
mengampuni kamu juga.”
Ditulis Oleh: Thomas Mulia
0 comments:
Posting Komentar