Sabtu, 08 November 2014

Dimmite



David mengutuki kebodohannya sendiri. Dia sedang mengandarai Mobil sedannya dengan kecepatan tinggi ditengah guyuran hujan. Saat itu David sedang berada ditengah kota New York pada jam pulang kantor. Dimana-mana terlihat orang-orang dengan pakaian kantor keluar lalu lalang dari gedung-gedung khas kota metropolis itu dengan tergesa-gesa. Hari ini bisa dibilang hari terburuk dalam hidup David. Saham sedang kacau balau, NASDAQ yang merupakan bursa saham terbesar AS dikabarkan hari ini turun lebih dari tujuh persen yang menandakan Amerika Serikat sedang menghadapi jurang resesi lagi. David bekerja sebagai konsultan keuangan di salah satu perusahaan terbesar di New York, jadi berita jatuhnya bursa saham AS sudah cukup membuat dirinya down.

Siang tadi saat David sedang makan siang di restoran yang ada dilantai dasar kantornya, tiba-tiba rekan sekantornya mendatanginya dan memberitahu jika Boss meminta David untuk segera menemuinya. David yang baru memakan tiga sendok saladnya, langsung menuju lift untuk menghadap bossnya itu. Didepan ruangan bossnya, David mengetuk dan mendengar suara “Masuklah..” dari dalam ruangan.


 Boss David sedang duduk dikursinya dibelakang meja saat David masuk, dan dengan gerakan tangannya, dia menyuruh David duduk dikursi yang ada diseberang mejanya. “Jadi begini David, aku akan langsung berbicara ke intinya saja. Perusahaan sekarang sedang melakukan langkah penghematan besar-besaran. Seperti yang kamu ketahui, Client kita tak bisa membayar jasa konsultan keuangan sebesar dulu lagi. Banyak client kita yang telah bangkrut atau pindah ke perusahaan lain yang menawarkan biaya jasa yang jauh lebih murah dari perusahaan kita.” Boss David terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Memang berat, tapi kami harus ‘membiarkan pergi’ beberapa karyawan. David, kamu salah satu orang yang harus pergi itu..”

David hanya terdiam. Dia telah bekerja diperusahaan itu lebih dari lima tahun dan seingatnya dia tak pernah melalukan suatu hal yang merugikan perusahaannya, jelas dia merasa tidak adil dengan keputusan bossnya itu. Setelah keluar dari ruangan bossnya, David dpenuhi dengan kemarahan. Rasanya dia ingin memukul wajah bossnya itu, tapi melihat badan bossnya jauh lebih besar dan kekar dibanding David, dia mengurungkan niatnya itu.

Tapi yang membuat David hancur hati pada hari itu bukanlah karena saham AS rontok atau bossnya memecat dia. Sore hari, David sedang membereskan meja kantornya saat smartphonenya berdering. David mengangkatnya, dan mendengar suara istrinya ditelpon itu berkata dengan jelas “Aku minta cerai…” David langsung shock saat mendengarnya. Memang tiga bulan terakhir hubungan David dan istrinya tidak lagi harmonis. Bahkan sudah seminggu belakangan mereka berdua tidak lagi bicara satu sama lain. Sama seperti keluarga Amerika lainnya yang sedang berjuang keras bangkit dari resesi, yang diributkan David dan istrinya adalah soal uang.

 Jadi begitulah, David dengan kesal mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi begitu keluar dari kantornya. Hari ini adalah hari terburuk dalam kehidupan David, semua hal yang telah dia bangun selama bertahun-tahun hancur begitu saja hanya dalam satu hari. Segala hal berjalan tidak adil baginya, David membenci bossnya yang telah memecat dia dan juga sangat marah kepada istrinya yang begitu saja minta cerai darinya.

 Lalu tiba-tiba saja, saat sedang memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mobil sedan yang dikendarai David oleng dan menabrak tiang listrik didepannya. Duaaaaaak!! Suara keras terdengar saat kap depan mobil David itu menghantam tiang didepannya. Orang-orang langsung berdatangan untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kepala David terasa begitu pusing, sepertinya kepala dia terbentur stir kemudi saat menabrak tadi. Samar-samar dia mendengar suara teriakan orang dari kejahuan dan suara ledakan. Setelah itu, yang ada hanyalah kegelapan dan keheningan…

***

David membuka matanya perlahan-lahan, cahaya matahari yang menyinari matanya membuat dirinya menjadi pusing. Dia berusaha menutupi cahaya matahari yang mengenai wajahnya itu dengan tangannya, tapi itu sia-sia saja. David merasakan sedang terbaring ditempat tidur yang sangat empuk, dan tercium aroma obat yang menyengat. “Bagaimana keadaanmu?” Tanya suara lembut disamping David. Dia mencoba melihat sisumber suara yang berbicara kepadanya, orang itu adalah seorang pria berpakaian putih dengan stetoskop menggantung dilehernya. “Pusing, aku merasakan pusing hebat…” kata David lemah, dia berusaha memegang dahinya yang ternyata telah diperban tebal.
 “tiga tulang rusuk yang patah, tangan kanan retak dan pendarahan hebat dikepala… apa itu sebutannya, ah ya.. mujizat. Sebuah mujizat kamu masih bisa bernafas sekarang.” Kata dokter itu ringan, seolah-olah dia hanya sedang menjelaskan cuaca kepada David. “Berapa lama aku tak sadarkan diri?” Tanya David, dia merasa sudah berminggu-minggu tak menggerakkan badannya, seluruh tulangnya terasa begitu kaku.

 “kamu tak sadarkan diri kurang lebih selama tiga hari.” Dokter itu menjawab. “Oke, jadi hal terakhir apa yang kamu ingat sebelum pingsan?” Dokter itu bertanya pelan pada David. “Siapa kamu?” David malah berbalik bertanya bingung, sepertinya dia belum sepenuhnya sadar. “Oh ya, maafkan aku karena belum memperkenalkan diri sebelumnya. Namaku adalah Simon Dimmite, aku adalah Dokter yang bertanggung jawab terhadapmu. Sekarang kamu sedang berada di Rumah Sakit ‘Dimmite’ Tuan David, ini adalah Rumah Sakit yang didirikan Kakek aku bertahun-tahun yang lalu.” Dimmite? Nama yang aneh pikir David. Terdengar seperti bom dynamite saja sebutannya, tapi David menolak menanyakan soal nama ini lebih jauh.

“Jadi, kembali ke pertanyaanku tadi.. hal terakhir apa yang kamu ingat sebelum tabrakan?” Dokter Simon kembali bertanya. “hmm, aku ingat saat itu sedang sangat marah. Pikiranku sedang tidak jernih, hujan lebat membuatku sulit melihat kaca depan mobil. Dan tiba-tiba saja aku kehilangan kendali dan oleng menabrak tiang listrik.” Jawab David terputus-putus, tidak mudah baginya mengingat kejadian yang hampir merengut nyawanya ini. “Apakah saat itu kamu sedang dalam pengaruh alkohol?” Dokter Simon melanjutkan pertanyaannya, entah mengapa nada bicaranya seperti polisi yang sedang menginterograsi kriminal.

“Alkohol? Tentu tidak! Aku sudah bertahun-tahun tidak minum lagi sejak aku telah…” David tidak menyelesaikan jawabannya. “Kamu tidak minum lagi sejak kamu telah apa?” sepertinya Dokter Simon belum puas dengan jawaban David. “Sejak aku telah menikah…” Jawab David lemah. Tiba-tiba David mengingat istrinya itu, apakah dia sudah datang untuk menjengukku? Pikir David. “Begitu ya, kabar baiknya Tuan David, sepertinya kamu tak geger otak karena kamu masih bisa mengingat kejadian yang hampir membunuhmu itu dengan baik. Kabar buruknya, dilihat dari kondisimu sekarang paling tidak butuh dua sampai tiga bulan lagi hingga akhirnya kamu bisa pulih total. Jadi selama disini aku harap kamu jangan banyak pikiran dulu dan ikuti semua anjuran dokter dan perawat.” Kata Dokter Simon datar. “Dok, apakah selama aku pingsan ada orang yang menjengukku?” David bertanya. “Ya, beberapa kali ada orang-orang berpakaian formal datang untuk melihat keadaanmu saat kamu tidak sadarkan diri. Tapi untuk hari ini sepertinya belum ada yang datang menjengukmu.”

Pakaian formal? Pasti mereka hanya teman sekantorku.. kata David dalam hatinya. “Selain itu Dok, apakah ada yang lain telah datang?” David kembali bertanya penuh harap. “Tidak ada, sepertinya tidak ada lagi yang telah datang menjengukmu.” David hanya terdiam mendengar jawaban Dokter Simon. “Baiklah kalo begitu, cobalah untuk istirahat sebentar. Aku akan kembali lagi setelah memeriksa pasien yang lain. Have a good day Pak David” kata Dokter Simon sambil berjalan keluar ruangan perawatan David.

David merenung diranjang itu, Istriku tak datang. Sebenci itukah dia padaku? Sepertinya dia sudah tidak peduli lagi walaupun aku telah mati! David berbicara pada dirinya sendiri. Tadinya David pikir, istrinya paling tidak akan melupakan pertengkaran mereka berdua sejenak begitu mendengar dirinya kecelakaan. Tapi istri David sepertinya sudah tak mau ada urusan lagi dengannya, dan memilih mengacuhkan David yang sedang sekarat di rumah sakit. Tentu saja hal ini membuat David benar-benar mara, ini semua karena istri dan bossku! Seandainya saja mereka berdua berlaku adil padaku pasti kejadian ini tak akan pernah terjadi! Dasar sialan! Kata David dengan kesal pada dirinya sendiri. Dia mengepalkan tangannya begitu kuat hingga tertinggal bekas kuku yang dalam pada telapak tangannya itu.

David merasa begitu kosong, segala hal sepertinya berjalan salah bagi dirinya. Kecelakaan, kehilangan pekerjaan dan digugat cerai istrinya membuat dirinya merasa menjadi orang tersial dimuka bumi. Dia menjadi sangat putus asa dan merasa sangat marah kepada orang-orang yang telah menyakitinya. Disaat tangan David menyentuh bagian kanan atas ranjangnya dengan tangan, dia mendapati dibagian ranjangnya itu ternyata basah terkena air. Dia memandang langit-langit, dan melihat ada tanda bocor disitu. Rupanya atapnya bocor, sempurna sudah penderitaanku, sudah sekarat, sekarang aku harus tertidur di ranjang yang basah karena atap yang bocor! David makin merasa kesal.

Tak beberapa lama Dokter Simon kembali dan menyuntikkan David beberapa obat-obatan ke tubuhnya. “Obat ini untuk membuatmu tenang…” Kata Dokter Simon singkat. Walau baru bertemu, David langsung tahu jika Dokter Simon adalah orang yang dingin dari cara bicara Dokter itu padanya. David kira, Dokter Simon akan langsung pergi meninggalkannnya lagi setelah menyuntik dirinya, tapi ternyata Dokter Simon malah mengambil kursi disudut ruangan dan duduk disebelah ranjang David. Setelah itu yang ada hanya keheningan, mereka berdua tak saling berbicara hanya terdiam tanpa suara.

Akhirnya David yang sudah daritadi BT, tak tahan lagi karena Dokter itu hanya memandanginya tanpa sebab. David berkata “Apa yang Dokter lakukan disini?” Dokter Simon tersenyum kecil mendengar pertanyaan David, bahkan senyumnya itu begitu dingin pikir David. “Sekarang, aku sedang memandang seorang yang seumur hidupnya akan dipenuhi dengan penderitaan dan rasa iba pada dirinya sendiri..” kata Dokter Simon. “Apa maksudmu!? Kau meledekku ya!?” David berkata dengan marah, dia sudah cukup banyak memiliki persoalan yang membuatnnya betul-betul marah dan ejekkan Dokter Simon sama sekali tidak membuatnya lebih baik.

“Tidak Tuan David, aku tidak mengejekmu. Sebaliknya aku sedang berusaha membuka matamu..” Dokter Simon berbicara tenang. “Aku memiliki bakat aneh, hanya dalam semenit melihat data pasien, aku biasanya bisa langsung menebak seperti apa pasien yang aku tangani. Dari penyakit yang diderita, latar belakang pekerjaan dan riwayat hidup sipasien aku bisa membaca banyak hal tentang hidup pasien itu. Dan saat aku membaca datamu Tuan David, tebakanku adalah dirimu seorang yang mendambakan kesempurnaan dan sangat membenci kegagalan.”

David membuka mulut untuk menyangkal tebakan dokter itu, tapi sebelum dia bisa melakukannya, Dokter Simon mengangkat tangannya tanda agar David tidak memotong perkataannya. “Tak ada yang perlu disangkal Tuan David. Aku tahu pasti sangat berat bagi orang yang menyukai kesempurnaan sepertimu untuk berada dikeadaanmu sekarang. Tapi walau begitu, izinkan aku mengatakan ini padamu. Ampunilah mereka…” “Ampuni mereka? Apa maksudmu?” David bertanya, tapi walau begitu sebenarnya dia tahu betul apa yang dimaksud Dokter Simon.
“Tuan David, memang tubuhmu terluka karena kecelakaan. Tapi aku bisa melihat jika hatimu terluka jauh lebih parah. Dan menurut pengalamanku sebagai dokter, luka hati jauh lebih sulit menyembuhkannya dibanding luka fisik. Jadi, untuk menyembuhkan luka hatimu itu, kamu harus memaafkan mereka yang telah menyakitmu.”

“Memaafkan mereka? Kau gila ya!  Mereka orang-orang yang telah menghancurkan hidupku! Mereka yang membuatku terbaring diranjang ini tanpa harapan…” David berkata dengan nada tinggi. Dia mulai mencurahkan rasa kesalnya yang selama ini dipendam pada Dokter Simon tapi sepertinya Dokter itu tidak keberatan menjadi sasaran kekesalan David. “Aku tak berbuat salah pada boss atau istriku, tapi apa yang telah mereka lakukan? Mereka membuangku! Setelah semua usaha terbaik yang telah aku lakukan, aku sama sekali tidak dihargai. Dan sekarang, setelah semua hal jahat yang telah mereka lakukan, kau mengharapkan aku untuk memaafkan mereka? Kau pasti sudah gila Dok!” Sepertinya suara David terdengar hingga ujung lorong rumah sakit itu, tapi ia tak peduli tentang hal itu. Dia sudah terlalu kesal dan marah, hingga sudah tak mau ambil pusing soal apapun lagi.

“Ah, yaa… perbuatan jahat ya… hmm, Pak David aku rasa Istri dan bosmu tidaklah berbuat jahat padamu. Satu-satunya alasan mengapa kamu bisa terbaring dirumah sakit ini, itu semua hanya karena kesalahanmu sendiri.” Dokter Simon berkata tenang. “Dok, aku sama sekali tidak perduli dengan semua omong kosongmu! Keluarlah dari ruanganku sekarang! Aku tak sudi mendengar ceramahmu tentang hidupku sendiri.” David berkata kasar, dia sudah tak mau tau lagi soal Dokter ini. bagi David, Dokter Simon hanyalah orang yang suka ikut campur urusan orang lain.
Dokter Simon terdiam, dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu lagi saat mulutnya terbuka, tapi tak jadi. Dia menutup mulutnya dan menggantinya dengan senyuman misterius. Lalu, Dokter Simon dengan tenang berdiri dari kursinya dan langsung membelakangi David untuk pergi keluar ruangan itu. Sesaat sebelum keluar, Dokter Simon berkata lagi dengan suara lembut pada David “nanti kamu akan mengerti apa maksud perkataanku ini..” dan dengan kata-kata itu, Dokter Simon menutup pintu meninggalkan David sendirian dalam kamarnya.

***
David membuka matanya. Dia sedang berdiri dihutan yang lebat. Dikanan dan kiri David pohon-pohon ek tinggi besar berjejer seolah-olah menjadi jeruji besi untuk menahan dirinya. tak ada siapapun dihutan itu selain David. Begitu hening, David bahkan bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang berdetak kencang. “Halo…. Apa ada orang disini?” tak ada jawaban. David melihat jalan setapak lurus ditengah hutan itu, dan memutuskan untuk mengikuti jalan itu.
David tak menemui siapapun atau apapun saat berjalan menyusuri jalan setapak itu. Tak ada manusia lain, hewan bahkan tak ada burung yang terlihat melintas diatas langit hutan itu. Benar-benar sepi, David mulai merasa takut. Sampai mana jalan setapak ini akan berakhir? Pikir David dalam hatinya.

 Lalu tiba-tiba saja, terdengar suara kreeek…kreek…kreeek, seperti gunung yang runtuh. David menoleh kebelakang, dan melihat jika jalan setapak yang tadi telah dilewatinya perlahan-lahan terbelah menjadi dua sisi dengan suara keras. David langsung panik dan berusaha lari secepat mungkin sebelum tertelan jalan yang dia lewati itu. Suara pecahnya jalan dibelakang David semakin keras dan dekat terdengar, keringat bercucuran dari badannya saat David berlari untuk hidupnya. Duaaaakkk! David terjatuh karena tersandung bongkahan kayu yang entah dari mana muncul didepannya. Saat David mencoba untuk berdiri, tanah yang terbelah itu telah sampai kepadanya dan menelan dia. David terjatuh ke lubang hitam yang sangat dalam, Teriakan David saat jatuh, terdengar menggema diseluruh hutan itu.

***
David langsung terbangun dari mimpinya itu. Mimpi yang aneh, apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kata David pada dirinya sendiri. Dia memandang jendela disebelah kanannya, ternyata hari masih malam. David meraih smartphone yang ada dimeja sebelah tempat tidurnya, ternyata jam baru menunjukkan pukul tujuh malam lewat empat puluh menit. Pasti aku tertidur karena obat yang diberikan Dokter Simon, David berkata dalam hatinya. Kenapa aku bisa mimpi seperti itu? Mimpi yang mengerikan… hutan apa itu, aku sama sekali tak pernah mengunjungi hutan seperti itu seumur hidupku. Dan tanahnya, bagaimana mungkin tanah itu bisa seperti benar-benar menelanku? Sungguh mengerikan!

Disaat David sedang merenung tentang mimpi aneh yang baru dialaminya, tiba-tiba pintu kamar David terbuka dan masuklah seorang suster gemuk berwajah ramah menghampirinya. “Selamat malam Tuan David. Bagaimana keadaanmu? Tadi aku mampir untuk membawa makan malammu, tapi anda tertidur jadi aku baru kembali lagi sekarang.” Suster itu membawa mapan yang diatasnya ada makan malam milik David. “Oh ya, terima kasih Suster..” kata David berusaha tersenyum. Seharian ini dirinya hanya berbicara dengan Dokter Simon yang dingin dengan senyumnya yang misterius sehingga saat melihat tampang ramah suster ini entah mengapa membuat David menjadi sedikit ceria. “Tuan David, aku juga membawa obat yang harus kamu minum begitu selesai makan. Biar aku letakkan obatnya di meja sebelah tempat tidurmu.” Suster itu berkata seraya memberikan mapan makanan dihadapan David dan menaruh obat dimeja samping tempat tidurnya.

“Berapa lama aku tertidur tadi kira-kira?” David bertanya pada Suster ramah itu sambil memakan makan malamnya yang ternyata terdiri dari satu mangkuk bubur putih hambar, ayam rebus dan pudding coklat. Tentu saja ini adalah makanan khas rumah sakit. “Anda tertidur kurang lebih dua jam Tuan David. Aku tadinya ingin membangunkanmu untuk makan malam, tapi aku tidak enak hati karena sepertinya kamu tertidur sangat nyenyak.” Suster itu menjawab David sambil tersenyum hangat. “Oh ya, Pak David, ada dimana istrimu? Aku tak melihatnya seharian ini.”

“Istriku? Apa maksudmu suster? Bagaimana kamu tahu jika aku memiliki istri?” David bertanya dengan kaget pada Suster itu. Bagaimana mungkin suster ini tahu jika aku sudah punya seorang Istri? Tanya David pada dirinya sendiri. “Tentu saja aku kenal Istri anda Tuan David. Selama kamu tak sadarkan diri tiga hari ini, istrimulah yang menjagaimu siang dan malam. Dia orang yang sangat sopan juga..” jawab suster itu.”Tapi Dokter Simon tidak berkata demikian, dia tadi hanya bilang jika hanya teman-teman kantorku yang datang menjenguk.” David bertanya bingung.

“Ah, Dokter Simon baru datang memeriksamu hari ini, Tentu saja dia belum pernah melihat istrimu. Hanya aku Suster yang selalu menjagamu sejak pertama kali kamu masuk ke rumah sakit ini, jadi aku tahu siapa saja yang datang dan pergi.” David benar-benar tak pernah menyangka ini, dia pikir selama ini istrinya itu tak perduli lagi pada dirinya. Jadi pergi kemana istriku hari ini? Kenapa dia tak datang hari ini menjengukku lagi? David bertanya-tanya dalam hatinya. “Bukan hanya pada Istrimu, kamu juga harus berterima kasih pada bossmu itu. Tanpa dia mungkin kita tak akan pernah bercakap-cakap seperti ini, karena anda tak mungkin bisa selamat.” Suster itu memberitahunya. “Apa maksudmu?” David bertanya tambah bingung lagi.

 “yaah, waktu kamu dibawa kesini oleh ambulans. Kamu telah kehilangan banyak darah. Dan tentu saja kamu tahu jika golongan darahmu adalah jenis yang langkah. Rumah sakit saat itu sedang kehabisan stok darah, Boss kamu adalah orang yang pertama kali datang ke rumah sakit ini untuk melihat keadaanmu. Saat kami menjelaskan keadaanmu yang kritis karena kehabisan darah, dia langsung sukarela memberikan darahnya padamu untuk didonor. Waah, aku tak pernah melihat seorang yang mendonorkan darahnya sebanyak itu dalam satu kali donor! Mukanya langsung lemas dan pucat begitu selesai transfusi karena dia memberikan darah dalam jumlah yang melebihi batas donor. Dia sepertinya benar-benar tak ingin kehilanganmu sehingga mau melakukan hal seperti itu.” Suster itu menjelaskan pada David dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.

David langsung benar-benar merasa bersalah. Dia selama ini tak pernah menduga soal apa yang telah dilakukan oleh boss dan istrinya itu. David mengira jika Bos dan Istrinya itu adalah orang jahat dan tak tahu diri. Tapi setelah mendengar cerita si suster, David akhirnya sadar jika dirinyalah yang sebenarnya orang yang jahat dan tak tahu diri itu. Tiba-tiba saja David teringat perkataan Dokter Simon kepada dirinya “Ampunilah mereka….” Hati David seperti ditusuk pisau tajam saat mengingat perkataan ini. Pintu kamar David terbuka lagi, dan masuklah Istrinya itu. Istri David adalah seorang wanita muda berusia dua puluhan. Berambut hitam sebahu, mata coklat pekat dan hidung mancung, Istri David adalah seorang wanita yang cantik. David hanya bisa terdiam saat menatap wajah istrinya itu. Walau hanya beberapa hari tak melihat istrinya, tapi entah mengapa David merasa tidak bertemu Istrinya itu untuk waktu yang lama.

Seperti mendapat firasat yang aneh, Suster gemuk itu berkata ini begitu melihat Istri David masuk “Aku pergi dulu, masih ada pasien lain yang harus aku datangi dikamar sebelah…” Padahal kamar sebelah tak ada pasien. Setelah suster pergi, Istri David duduk dikursi yang tadi diduduki oleh Dokter Simon. “Bagaimana keadaanmu?” Tanya Istrinya itu pada David. “A..aku, aku baik-baik saja..” David menjawab terbata-bata. Dia benar-benar merasa bersalah pada istrinya itu. “Jadi kamu terus menjagaku saat aku tak sadarkan diri selama ini?” David bertanya, entah mengapa dia merasa sangat malu saat menanyakan ini pada Istrinya itu. “Iya, begitu bossmu menelponku dan mengatakan jika kamu dalam kondisi kritis aku segara pergi kemari. Oh, David maafkan aku! Hari itu aku benar-benar merasa kacau saat minta cerai darimu. Kita bertengkar melulu sepanjang bulan ini, dan perekomonian sepertinya hanya bertambah buruk. Aku benar-benar takut tentang masa depan kita jika kita terus bersama. Tapi sekarang aku sadar, jika hari itu aku benar-benar melakukan kesalahan. Maafkan aku David..” Saat mengatakan hal ini, matanya berbinar-binar.. sepertinya dia akan menangis.

David mengusap pipi Istrinya itu yang mulai dialiri air mata sambil berkata lembut “Sayang, jika kamu pikir kecelakaanku ini karena dirimu minta cerai waktu itu, kamu salah. Tadinya memang aku menyalahkan dirimu dan bossku atas semua hal ini. Tapi aku sekarang sadar, jika sebenarnya yang salah adalah aku. Hari itu aku membiarkan diriku dipenuhi dengan kebencian kepadamu dan bossku. Tapi biarlah, semuanya sekarang telah terjadi. Yang aku mau sekarang hanyalah tak mau kehilangan kamu lagi…” Istri David tersenyum dibalik airmatanya dan mencium pipi suaminya itu.

Sekarang David tahu jika bekas air yang ada disamping ranjangnya tadi bukanlah akibat atap yang bocor. Bekas air itu adalah air mata Istrinya yang telah mengering waktu menjaga David saat dirinya masih tak sadarkan diri. Terdengar suara ketukkan pintu lalu masuklah Boss David kedalam ruangan itu. Saat dia melihat David dan Istrinya sedang berbicara, dia berkata “Haruskah aku kembali lagi nanti?” “Tidak apa-apa… kemarilah Pak..” kata Istri David hangat pada boss David. Boss David tersenyum saat menanyakan keadaanya “Jadi anak muda, bagaimana kabarmu?” “Baik Pak, sangat baik. Aku ingin mengucapkan terima kasih atas donor darah yang telah Bapak lakukan. Tanpa bapak, mungkin aku sudah tamat..” David berkata dengan penuh rasa terima kasih pada bossnya itu, semua amarahnya kepada bossnya itu telah menghilang lenyap seperti uap.

“ho..ho..ho..ho, tak perlu berterima kasih David. Itu sudah seharusnya aku lakukan. Tak banyak orang memiliki golongan darah yang langkah seperti kita. Sejujurnya aku juga terkejut saat Suster memberitahu jika golongan darahmu adalah golongan darah yang sama denganku. Tapi sudahlah, sekarang kamu sudah selamat, itu yang terpenting.” Boss David berkata dengan ceria. “Aku kesini untuk memberitahu jika semua dana PHK kamu telah dicairkan sepenuhnya dan telah ditransfer kerekeningmu. Mengingat sekarang perusaahaan sudah bangkrut, jadi…” “Bangkrut? Apa maksud kamu Pak?” David tiba-tiba memotong Bossnya itu. “Ya, bangkrut! Bangkrut! Perusahaan kita sudah tak ada lagi sekarang. Tiga hari belakangan ini bursa saham Amerika sedang kacau balau, yaaah… memang hal ini sudah diperkirakan sebelumnya. Maka dari itu aku beberapa minggu belakangan mencoba menolong mereka yang telah berjasa bagi perusahan itu…” Dan tiba-tiba Boss David tak melanjutkan perkataanya, dia telah kelepasan berbicara.

“menolong mereka yang berjasa? Pak, apakah itu yang telah kamu lakukan pada aku? Bapak tahu kan jika aku tidak dipecat sebelum perusahaan bangkrut maka tak mungkin aku akan mendapat dana PHK dan itu artinya aku tak akan mendapat uang sepeserpun sekarang. Karena jika perusahaan bangkrut dan para karyawan masih belum diberhentikan, maka mereka hanya mendapat dana tunjangan minimal yang kecil. Dengan memecatku waktu itu, berarti Bapak membuatku bisa mencairkan dana tunjangan PHK yang jumlahnya jauh lebih besar kan...” David tak menyangka jika sebenarnya yang dilakukan Bossnya itu saat memecatnya bukan karena dia membenci dia, sebaliknya Bossnya melakukaan itu untuk menyelamatkan dirinya.

“Kamu adalah pegawai terbaik yang pernah bekerja denganku David. Dengan semua pengorbananmu demi perusahaan ini, aku tak rela melihatmu pergi dari sini tanpa uang sama sekali. Aku sadar jika memecatmu pada hari itu adalah keputusan terbaik yang pernah aku buat. Karena hanya itulah yang dapat kulakukan untuk mengucapkan terima kasih padamu atas semua jasamu atas perusahaan ini.” Boss David berkata tenang pada David. Mengetahui hal ini, David hanya bisa terdiam. Satu alasan lagi bagi David untuk menambah rasa bersalahnya. Dia benar-benar telah berpikir salah soal Istri dan bossnya itu. Bodoh! Aku benar-benar bodoh! Kata David pada dirinya sendiri. Sekarang dia benar-benar membenci dirinya sendiri. Perkataan Dokter Simon yang lainnya terlintas dibenak David “satu-satunya alasan kamu bisa terbaring di rumah sakit ini, itu semua karena salahmu sendiri..” sekarang David setuju dengan pernyataan Dokter Simon itu.

Jadi begitulah, setelah pembicaraan itu, Boss David pamit meninggalkan David dan istrinya. Tadinya Istri David mau menemani David di rumah sakit tapi David menyuruhnya pulang. Dia tahu dari wajah istrinya kalo istrinya itu kelelahan karena selama ini telah menjaganya tanpa lelah. Kecelakaan itu membuat David mempelajar banyak hal. Memang seluruh badan David sakit, tapi dari sakitnya itulah David menjadi orang yang jauh bijaksana dan berbeda dari dirinya sendiri dimasa lalu.

***
Cahaya matahari menerangi kota New York yang sibuk. Saat itu baru jam tujuh pagi, tapi klakson kendaraan sudah terdengar dimana-mana. Rumah Sakit Dimmite memang terletak ditengah kota metropolitan itu. Bukan hanya terletak ditengah kota, Rumah Sakit itu adalah Rumah Sakit terbesar dikota New York. Rumah Sakit bersejarah itu dikelola oleh keluarga secara turun menurun. Didirkan pada tahun seribu Sembilan ratus dua puluh oleh Charles Dimmite, Rumah Sakit Dimmite adalah Rumah Sakit yang populer saat perang dunia meletus. Setelah Charles Dimmite wafat, anaknya Andrew Dimmite mengambil alih Rumah Sakit itu. Dan setengah abad kemudian, Andrew Dimmite yang sudah tua, mewariskan Rumah Sakit itu pada anaknya Simon.

Hingga sekarang, Dokter Simon Dimmite masih menjabat sebagai pemilik sekaligus direktur Rumah Sakit yang didirikan kakeknya itu. Rumah Sakit Dimmite adalah Rumah Sakit yang indah, jika jaman sekarang Rumah Sakit modern yang menawarkan konsep minimalis muncul dimana-mana tapi tidak dengan Rumah Sakit Dimmite. Walau telah direnovasi berkali-kali sejak perang dunia, tapi Rumah Sakit Dimmite masih mempertahankan design bangunan kunonya. Di Rumah Sakit itu masih dapat ditemukan lorong-lorong abad kesembilan belas dan pilar-pilar tua namun kokoh yang telah ada sejak pertama kali Rumah Sakit itu didirikan.

Jika dilihat dari luar, Rumah Sakit Dimmite lebih mirip museum benda antik daripada Rumah Sakit. Tapi tak bisa dipungkiri jika Rumah Sakit ini memiliki sejarah yang menakjubkan. Mulai dari Presiden AS, hingga Walikota New York pernah dirawat di Rumah sakit ini. Dan David sekarang terbaring disalah satu ruangan di Rumah Sakit antik itu, sedang terbangun dan mengucap syukur pada Tuhan untuk kesempatan hidup yang masih diberikan olehNya.

***
Dokter Simon masuk ke ruangan David dipagi itu, mendapati David sedang membaca Alkitab yang telah lama tak pernah ia baca. David begitu serius membaca buku bersampul hitam yang tebal itu hingga tak sadar jika Dokter Simon telah ada disebalahnya dengan wajah ceria yang jarang sekali ditunjukkan oleh Dokter itu. “Bagaimana keadaanmu , Tuan David?” Dokter Simon menanyakan sekaligus menyadarkan David yang sedang serius membaca. “Ah, Dokter Simon! kamu membuat saya kaget saja. Suara kamu tak terdengar saat masuk!” David menjawab terkejut.
“Keadaanku sekarang sangat baik. Malahan aku tak pernah merasakan keadaan yang sebaik ini seumur hidupku!” David melanjutkan berbicara. “Jawaban aneh yang keluar dari seorang pria yang baru saja selamat dari kecelakaan maut! Eh, Tuan David, Dirimu masih diperban disana sini.. benarkah kamu sadar soal apa yang kamu bilang barusan? Jangan-jangan aku juga harus memeriksa otakmu!” Dokter Simon bercanda. “hahaha, tidak Dokter. Otakku baik-baik saja, aku hanya merasakan diriku begitu bebas sekarang.”

“Begitu bebas? Aah, Tuan David kamu telah mengerti apa yang kukatakan kemarin ya..” Dokter Simon tersenyum, tapi senyumnya yang sekarang bukanlah senyum dingin seperti biasanya. Senyumnya sekarang adalah senyum yang penuh kehangatan yang jarang dia gunakan. “Ya Dokter, aku mengerti sepenuhnya apa yang kau katakan kemarin padaku. Karena itu maafkanlah aku atas perlakuan kasar yang telah aku perbuat padamu hari kemarin. Aku betul-betul menyesal telah meneriakimu…” David berkata malu-malu pada Dokter Simon.

“Tidak masalah Pak David, kamu bukanlah orang pertama yang pernah meneriaki aku, harus kuakui sifat dingin yang aku miliki membuat orang lain sangat mudah untuk membenciku. Tapi bagaimanapun Tuan David, aku turut senang karena kamu telah berhasil melepaskan pengampunan bagi mereka yang kau anggap telah menyakiti hatimu.” Dokter Simon berkata tenang.
“Iya Dok, aku mengampuni mereka. Itu adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat, tinggal dalam kebencian dan kemarahan sama sekali tak membawa manfaat apapun bagiku. Sebaliknya akhirnya aku sadar, disaat aku mengampuni aku tak membebaskan mereka, sebaliknya aku melepaskan diriku sendiri dari kepedihan yang sangat dalam.” David berkata sambil tersenyum, kecelakaan ini memang telah benar-benar mengubah hidupnya.

“Ya, aku mengerti perasaanmu. Hidup dalam belenggu kebencian dan kepahitan, seperti tinggal dalam hutan yang sunyi sendirian. Awalnya mungkin kamu bisa melangkah maju sesaat, tapi pada akhirnya kamu akan menyadari jika perlahan-lahan kamu akan tenggelam dalam kesendirian dan kebencianmu itu dan jatuh ke jurang keputusasaan yang sangat dalam.” Kata Dokter Simon. Tiba-tiba David tersentak, penjelasan Dokter Simon tentang hidup dalam kebencian karena tak mau melepaskan pengampunan itu persis sama seperti mimpinya di hari kemarin.

Dokter Simon dan David bercakap-cakap beberapa lama hingga akhirnya ada satu pertanyaan lagi yang menganggu David yang ingin dia tanyakan pada Dokter Simon. “Dok, jika Dokter tak keberatan untuk menjawab, aku ingin bertanya, eer… sebenarnya apa arti dari kata ‘Dimmite’? jujur saja aku baru pertama kali mendengar nama keluarga seaneh itu.” David bertanya ragu-ragu, yang disambut tawa oleh Dokter Simon begitu ia mendengar pertanyaan David.

“Tuan David yang baik, aku kira kamu sudah tahu arti dari nama belakangku dan rumah sakit ini…” Dokter Simon berkata dengan tawa cukup keras yang pasti bisa didengar oleh ruangan sebelah. Entah mengapa Dokter Simon mengaggap hal ini begitu lucu, disaat David menggelengkan kepalanya tanda jika dia benar-benar tidak tahu arti dari kata ‘Dimmite’ itu akhirnya Dokter Simon menjawabnya dengan lebih serius.

“Baiklah, jika kamu benar-benar tidak tahu arti kata itu. ‘Dimmite’ adalah bahasa latin yang jika diterjemahkan maka artinya adalah pengampunan.” Dokter Simon tersenyum, dan melanjutkan “Saat Rumah Sakit ini didirikan, saat itu adalah masa perang dunia. Orang-orang yang datang kesini adalah mereka yang terluka karena perang. Mereka tak hanya terluka secara fisik tapi mirip seperti kamu Tuan David, mereka juga memiliki luka hati yang sangat dalam. Mereka dirawat dengan penuh kebencian dan amarah karena perang. Sehingga Kakekku pada waktu itu memutuskan memakai nama keluarga belakang kami sebagai nama belakang Rumah Sakit ini, karena ia tahu jika hati yang damai tanpa beban kebencian adalah obat termanjur untuk segala jenis penyakit.”

Saat Dokter Simon menjelaskan ini, mata David telah dipenuhi dengan air mata yang tak dapat ia tahan lagi sehingga ia membiarkan pipinya dialiri oleh air mata itu. Sekarang David tahu jika segala hal yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini bukanlah sebuah kebetulan. Kecelakaan, masuk Rumah sakit ini dan bertemu dengan Dokter Simon adalah seperti cara Tuhan berbicara kepada dirinya. Dokter Simon menepuk pundak David yang sedang menangis dan berkata dengan lembut “Tuhan sayang kamu Tuan David, jangan khawatir lagi. Lepaskanlah bebanmu yang telah kau bawa selama bertahun-tahun itu tanpa mengenal lelah dan biarkanlah dirimu terbebas dari segala kepahitan dan amarah.”



Setelah Dokter Simon pergi meninggalkannya, dengan tangan gemetar David membuka lagi Alkitabnya dan menemukan sebuah ayat di Matius 6 ayat 14 yang berbunyi “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu di sorga akan mengampuni kamu juga.”


Ditulis Oleh: Thomas Mulia

0 comments:

Posting Komentar