Sabtu, 08 November 2014

Yesus Mengasihi Barabas

Matius 27:17  Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: "Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?"

Saat itu sudah menjadi kebiasaan bagi bangsa Yahudi untuk membebaskan seorang tawanan di hari-hari raya yang diadakan orang Israel. Disanalah berdiri dua orang diantara Pilatus diatas mimbar, seorang yang bernama Barabas dan Tuhan Yesus sendiri. Pilatus meminta rakyat memilih diantara dua orang ini untuk dibebaskan pada hari itu. Bukankah ini sangat tidak adil? Seorang juruselamat dunia disejajarkan oleh seorang pemberontak dan pembunuh. Apa yang telah dilakukan Tuhan Yesus selain menyembuhkan orang sakit? Atau membebaskan orang yang kerasukan roh jahat? Dan juga membangkitkan orang mati? Tapi disanalah Ia berdiri bersama Pilatus dan seorang keji bernama Barabas menunggu keputusan rakyat. Saat rakyat Israel yang telah buta itu memilih Barabas untuk dibebaskan, rantai yang membelenggu tangannya pun dilepaskan dan Barabas dengan bersukacita turun dari mimbar penghakiman itu sebagai orang bebas dan pergi meninggalkan Tuhan Yesus sendiri diatas mimbar itu.


 Tuhan Yesus melihat punggung Barabas saat ia membelakangi DiriNya waktu turun dari atas mimbar sedang bersorak sorai karena kebebasannya. Tapi Tuhan Yesus tidak berkata apapun atau menyangkal apapun, itu Ia lakukan karena Ia mengetahui rancangan BapaNya. Mungkin hari itu Barabas berfikir jika rakyat Israel lah yang telah membebaskannya, tapi itu salah... yang telah membebaskan Barabas adalah Tuhan Yesus. Dengan cara mengambil tempat Barabas sebagai seorang pendosa dan pelanggar, Barabas dibiarkan pergi. Pada kenyataanya, Tuhan Yesus harus menjadi Barabas agar Barabas dapat memperoleh kebebasan itu. Mungkin Barabas tak akan pernah berterima kasih pada Tuhan Yesus apalagi membalas kasih yang telah Tuhan beri, tapi toh itu tak menghalangi Tuhan Yesus untuk mengambil tempat Barabas sebagai seorang tertuduh. Teman-teman, bukankah kita ini adalah seorang Barabas? Kita tak pantas mendapat kebebasan, kita tak pantas memperoleh keselamatan dan tujuan hidup kita jelas adalah hukuman mati karena dosa. Tapi disana Yesus berdiri diatas mimbar diantara Pilatus dan kita, Dia berkata "Pergilah anakku, Aku telah menggantikan tempat kamu.." Ingatlah keadaan kita mula-mula saat dibebaskan Tuhan.


 pakaian kita tak bagus, tangan kita terikat belenggu dan tubuh kita kotor. Tidak beda jauh seperti seorang narapidana bernama Barabas bukan? Tapi sekotor dan seburuk apapun keadaan kita saat itu, Tuhan Yesus tetap mau menggantikan tempat kita. Itulah kasih karunia Tuhan, tapi terkadang kita suka menghukum diri kita sendiri. Kita merasa diri kita tak pantas untuk diselamatkan, kita merasa jika kita layak untuk dihukum dan Tuhan terlihat terlalu suci dan besar sehingga suatu kesalahan besar jika Tuhan yang seperti itu menggantikan tempat kita. Kenyataanya, jika Barabas bersorak sorai saat pergi dari atas mimbar penghakiman, kita malah tak mau meninggalkan mimbar itu! Kita merasa mimbar penghakiman dan hukuman adalah hal yang pantas untuk menjadi bagian kita. Kita berkata pada Tuhan "aku tak pantas diselamatkan, disinilah aku memang harus berada.


"Kekuatanku tak bisa membebaskan aku..." dengar baik, memang kita tak pantas diselamatkan, tapi Tuhan berfikir bahwa kita layak diselamatkan. Kita memang pantas dihukum mati, tapi Tuhan menilai kita pantas ditebus, Tuhan memang terlalu Suci dan kudus untuk menggantikan kita diatas Golgota, tapi Ia tak menganggapnya sebagai sebuah beban saat mengangkat salib itu keatas gunung. Jadi jangan tinggal dalam rasa rendah diri dan mengasihini diri sendiri lagi, sambutlah kasih Tuhan dengan ucapan syukur. Rasakan pelukan kasihNya dalam setiap nafas hidup kita, dan hiduplah untuk memenuhi rencanaNya yang indah. Tak ada dosa yang dapat memisahkan kita dengan Tuhan lagi, saat DiriNya memutuskan untuk menggantikan tempat kita diatas bukit Golgota.

Yesaya 1:18  Marilah, baiklah kita beperkara! — firman TUHAN — Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.

Ditulis Oleh: Thomas Mulia

1 komentar: