Malam yang gelap menyelimuti saat aku sedang merenung.
Tetesan air hujan kudengar saat air dari langit itu jatuh menghantam tanah. Aku
sendirian memandang jendela dan hanya bisa melihat kegelapan melaluinya. Begitu
sepi, aku tak bisa mendengar suara apapun selain hembusan nafasku sendiri. Aku
mencoba memejamkan mataku sejenak untuk menyelami lebih dalam keheningan ini.
Seharian mendengar kebisingan kota metropolis yang sepertinya tak ada habisnya
membuatku menghargai keheningan yang bisa aku dapat sekarang. Setelah puas
merasakan keheningan malam, aku membuka mataku dan memandang ke depan. Kulihat
Alkitab didepan mejaku dan mengambilnya untuk membacanya.
Sebenarnya ini bukan hal yang biasa aku lakukan, dilihat
dari Alkitabku yang terlihat masih baru padahal telah kubeli sejak 5 tahun yang
lalu membuktikan aku jarang sekali membukanya. Tapi entah mengapa malam itu aku
terdorong untuk membuka kembali Alkitabku dan membacanya secara acak. Saat
tanganku membalik-balikan halamannya secara asal saja, jari-jariku terhenti di
kitab 1 Petrus ayat 24 yang tertulis “Ia
sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita,
yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu
telah sembuh.” Aku membaca ayat ini berulang-ulang dalam hati, dan
mencoba merenungkannya.


