Perjalanan itu adalah perjalanan yang
berat. Amanda sudah melangkah lebih kurang dua puluh menit dan masih belum
mencapai tempat yang ingin ia tuju. Di malam yang dingin, Amanda memeluk dirinya sendiri didalam
jaketnya. Jalanan sudah sepi, Amanda yang berjalan di trotoar sesekali melihat
hanya ada beberapa mobil yang lewat di jalan raya. Amanda melihat jamnya yang
telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam dan memutuskan untuk istirahat
sejenak di kursi taman yang sedang ia lewati. Di kursi taman itu dia kembali
mengatakan pada dirinya sendiri berulang-ulang, sebentar lagi Amanda, sebentar
lagi semuanya akan selesai, Tak akan ada lagi tangisan dan kekecewaan.
Disaat ia sedang tenggelam dalam lamunannya
munculah sesosok pria yang berjalan melewatinya, Amanda tadinya tak terlalu
memperhatikan pria berbadan besar dengan menggunakan jaket coklat itu hingga
pria itu menjatuhkan sebuah buku kecil dari tangannya tepat di depan Amanda.
Disaat melihat buku yang dipegang pria itu jatuh, Amanda langsung berkata
"hei, Pak buku anda jatuh.." tapi Pria itu tidak benghiraukan Amanda
dan terus melangkah menjauh dan menghilang dalam kegelapan malam. Tadinya
Amanda mau mengejar pria itu untuk mengembalikan bukunya, tapi dia pikir peduli
amat. Aku sudah memanggilnya tapi dia tidak menghiraukan aku, biar saja dia
mengambil bukunya sendiri bila ia mau, kata Amanda pada dirinya sendiri.
Jadi disanalah Amanda sendirian di
taman pada tengah malam dengan buku kecil bersampul putih berada tepat di depan
kakinya. Setelah sepuluh menit berdiam diri, akhirnya Amanda tidak tahan lagi
dan mengambil buku kecil yang dijatuhkan pria berjaket coklat itu dan
membukanya. Itu adalah Buku yang cukup tua, setelah dia membalik-balik
halamannya ternyata buku itu adalah buku harian seorang anak perempuan berusia
enam belas tahun seperti dirinya. Amanda mengetahui itu karena di halaman
pertama buku itu tertulis "Catatan Harian Natasha, enam belas
tahun. jakarta"
Amanda kembali membalik-balik buku itu dan
membaca secara acak halamannya. Akhirnya dia membuka halaman yang tertulis
tanggal tiga Agustus dua ribu sepuluh, dan mulai membacanya. Tulisan yang
Amanda baca adalah ini
“Hari ini sangat menyenangkan, aku
akhirnya mendapat teman di sekolah baruku. Nama dia adalah Aliya, dia anak yang
manis dengan rambut hitam sebahu dan kulit hitam manis. Memang penampilannya
sangat berbeda jika dibanding aku yang berkulit putih dan rambut hitam
sepunggung, tapi Aliya adalah anak yang baik. Aku kira tadinya aku akan menutup
diriku di sekolah baru ini. Karena kematian ibu akibat kecelakaan mobil yang
begitu membuatku terpukul aku memutuskan menutup diriku dan tidak mau bicara
pada siapapun di sekolah lamaku. Ayah yang mencemaskan hal ini memindahkan aku
di sekolahku yang sekarang dengan harapan aku dapat melupakan masa laluku dan
melanjutkan hidup.”
Setelah membaca di tanggal itu Amanda kembali
membalik buku harian Natasha lebih jauh, dan berhenti di tanggal lima belas
desember dua ribu sepuluh. Pada hari itu yang Natasha tulis adalah ini
“Tahun baru sudah dekat! semua anak-anak di sekolah sudah ramai membicarakan tentang acara tukar kado pada malam pergantian tahun nanti. Pada malam tahun baru sekolah merencanakan perayaan pergantian tahun, akan ada acara pesta kembang api dan pertunjukkan musik di sekolah, pokoknya seru deh! Aliya bahkan sejak awal september katanya sudah mempersiapkan kado khusus untukku, saat aku tanya apa yang nanti akan dia berikan untukku, Aliya hanya menjawab singkat 'Kalo aku kasih tau skarang, ga seru lagi kan jadinya' jadi ya sudahlah aku tidak memaksanya memberi tahuku hadiah apa yang nanti akan dia berikan.
Aku sendiri belum tahu akan memberi hadiah apa
pada Aliya hingga kemarin. Kemarin malam saat aku berkata pada Ayah jika aku
ingin memberi Aliya kado saat malam pergantian tahun tapi belum mendapat ide,
Ayah tersenyum dan masuk ke kamarnya. Dia keluar kamar dengan membawa kotak
hitam persegi panjang seperti tempat pulpen mewah, tapi bedanya didalam kotak
itu isinya bukan pulpen tapi isinya kalung mutiara yang sangat indah. Ayah
bilang kalung itu adalah kalung yang biasa dipakai ibu dulu, saat aku bertanya
apakah ayah rela jika kalung itu aku berikan pada Aliya, ayah menjawab
'Semenjak ibu meninggal sepertinya hanya Aliya yang bisa membuatmu menjadi
bahagia lagi, Jika bukan sahabatmu itu ayah tidak tahu siapa lagi yang pantas
mendapat kalung ini untuk dapat menemanimu' aku sangat berterima kasih pada
Ayah dan membungkus kalung itu dengan indah untuk kuberikan pada Aliya nanti.”
Tulisan Natasha berakhir disitu, Amanda
penasaran hadiah apa yang nanti akan diberikan Aliya pada Natasha dan bagaimana
reaksi Aliya saat diberikan kalung mutiara milik ibu Natasha. Jadi Amanda
langsung membalik halaman buku harian Natasha pada tanggal tiga puluh satu
Desember dua ribu sepuluh, yang tertulis
“Kemarin aku kecelakaan dan tidak
sadarkan diri. Aku seharusnya memperhatikan lampu merah itu sebelum menyebrang!
Dokter bilang aku harus melakukan operasi karena Kepalaku mengalami pendarahan.
Aku merasa aku tidak akan selamat dan akan mati, perkataan dokter yang
mengatakan aku akan baik-baik saja tak bisa menghiburku. Tadi malam Ayah
menangis saat mendengar perkataan dokter dalam kamar perawatanku, waktu itu
Ayah mengira aku masih tak sadarkan diri. Saat itu aku mendengar perkataan
dokter yang berkata pada Ayah hanya ada sedikit kemungkinan operasi itu
berhasil dan aku akan tetap hidup.
Kakiku patah dan tangan kananku tak dapat
kugerakkan, aku menulis dengan menggunakan tangan kiri sekarang. Ayah memintaku
untuk tak menulis dan beristirahat untuk persiapan operasi. Tapi aku tidak mau,
aku merasa ini adalah tulisan terakhir yang bisa aku tulis. Aliya belum datang
menjenguk, aku kira sampai sekarang Aliya belum mengetahui jika aku mengalami
kecelakaan. Aku sudah memberi tahu Ayah untuk memberikan kalung mutiara itu
padanya nanti jika aku tidak bisa bertemu dengan dia lagi untuk terakhir
kalinya. Ironis memang, Ibu meninggal karena kecelakaan mobil dan sekarang aku
akan menemuinya di surga dengan cara yang sama. Aku hanya ingin bilang sekarang
Bagi kamu yang sedang membaca buku harianku ini, jangan sia-siakan hidup kamu.
Selalu ada alasan untuk tetap bahagia, dan jangan terlalu banyak menyesali diri
sendiri karena hidup ini hanya sekali. Tertawalah lebih banyak, menangislah
lebih sedikit dan mengucap syukurlah pada Tuhan selalu.
Mungkin memang hidup ini tidak berjalan
seperti yang kamu mau, tapi akan selalu ada alasan untuk terus melanjutkan
hidup ini.”
Natasha menulis hanya sampai disitu, Amanda
membalik-balik lagi halaman buku harian itu tapi tak dapat menemukan tulisan
Natasha lainnya lagi. Setelah tanggal tiga puluh satu Desember hanya ada
halaman-halaman putih kosong yang tidak pernah ditulis. Mengetahui Natasha
tidak lagi menulis setelah tiga puluh satu Desember, Amanda menutup buku itu
dalam pangkuannya. Tulisan Natasha terakhir yang berkata "Selalu ada
alasan untuk melanjutkan hidup ini" terdengar terus di kuping Amanda.
Sebenarnya Tadi pagi Amanda mendapat kabar
dari ayahnya di rumah sakit bahwa ibunya telah meninggal karena kecelakaan,
mendengar itu Amanda begitu terpukul. Malam ini Amanda berjalan pada tengah
malam bertujuan untuk pergi ke jembatan layang yang ada di tengah kotanya, Di
jembatan itu Amanda berencana untuk melompat bunuh diri. Lalu tiba-tiba saja
Amanda menangis, air mata Amanda berjatuhan membasahi buku harian Natasha di
pangkuannya. Akhirnya dia berkata pada dirinya sendiri, kematian ibu memang
tidak dapat aku terima tapi aku tahu sekarang bunuh diri bukan jawabannya.
Amanda bersyukur karena telah membaca buku peninggalan Natasha yang membuat dia
mengurungkan niatnya untuk bunuh diri.
***
Bertahun-tahun
kemudian Amanda sedang duduk di Cafe bersama teman-temannya dekat kampus sambil
menyelesaikan tugas kuliahnya. Amanda sekarang masuk kuliah jurusan kedokteran,
dia ingin menjadi dokter untuk menolong banyak korban kecelakaan jalan raya.
Amanda asik mengobrol dengan teman-temannya sambil mengerjakan tugas kuliahnya
dengan menggunakan laptop saat dia melihat seorang yang sepertinya ia kenal
masuk ke dalam cafe dan duduk di depannya. Lima menit penuh Amanda mengamati
orang itu sampai akhirnya ia sadar jika pria itu adalah pria yang menjatuhkan
buku harian Natasha di taman pada malam itu! Amanda langsung bangkit berdiri
dari kursinya dan mencari buku harian Natasha di dalam tasnya.
Amanda memang
selama ini selalu membawa buku harian Natasha kemanapun dia pergi, Saat berada
di depan orang itu Amanda memperkenalkan diri “Permisi pak, saya..” tapi
sebelum Amanda sempat menyelesaikan kalimatnya si pria mengangkat tangannya
tanda menyuruh Amanda diam. Dengan cepat si pria berdiri dan berkata “kau pasti
Amanda, sudah lama aku ingin berjumpa denganmu..” Amanda terkejut, bagaimana
pria ini tahu namaku pikirnya dalam hati.
Pria itu
mengulurkan tangannya dengan senyuman yang tak mungkin ditolak siapapun, Amanda
menyambut tangannya dan bersalaman dengannya. Dia meminta dengan gerakan
tangannya supaya Amanda duduk bersamanya yang dipatuhi Amanda, Lalu Amanda
bertanya “Bagaimana bapak bisa tahu namaku?” “aku tahu namamu dari seorang
Teman Baikku, Bahkan Teman Baikku itu juga yang bilang aku akan menemuimu hari
ini disini, dan ternyata Dia benar lagi.” Jawab pria itu singkat. Amanda ingin
bertanya siapa Teman Baiknya itu tapi dia memiliki hal yang lebih penting yang
harus ia lakukan. Amanda menyerahkan buku harian Natasha pada pria itu sambil
berkata “Buku ini telah menyelamatkan hidupku.” Pria itu menerima buku itu
sambil tersenyum saat melihatnya.
Lalu Amanda
menceritakan semuanya pada pria itu saat ia membaca buku harian Natasha di
taman pada malam itu. Pria itu mendengarkan dengan sabar tanpa ekspresi dan
bertanya, dia hanya diam dan mengangguk-ngangguk saat Amanda bercerita dari
awal hingga akhir. Saat Amanda selesai, pria itu kembali tersenyum dan berkata
“Kamu tahu Amanda, kenapa malam itu aku tidak menyautmu saat kamu bilang aku
menjatuhkan buku harian ini?” “tidak..” kata Amanda bingung.
“Itu karena aku
memang sengaja menjatuhkan buku ini untukmu, aku ingat pada malam itu aku
sedang berada di kamarku dan berdoa seperti biasanya saat aku mendengar suara
yang mengatakan aku harus pergi ke taman pada malam itu juga sambil membawa
buku harian anakku Natasha.” Amanda terkejut, tapi tak mengatakan apa-apa.
Si pria
melanjutkan “Jadi karena aku tahu itu suara Tuhan aku hanya menurut saja. Aku
pergi ke taman membawa buku harian Natasha saat aku melihatmu duduk sendirian
di Taman. Suara Tuhan berkata lagi disana bahwa aku harus memberikan buku
Natasha padamu. Jadi itulah yang aku lakukan, aku melewatimu dan menjatuhkan
buku itu dan pergi.” Amanda mulai mengeluarkan air mata saat pria itu
mengatakan kalimat terakhirnya, dari kejahuan dia dapat melihat wajah bingung
teman-temannya yang melihat mukanya memerah, tapi dia tidak peduli.
“Jadi semua ini
bukan kebetulan, dan Natasha itu anak bapa?” Tanya Amanda dengan suara
tertahan. “Iya aku rasa ini bukan kebetulan, dan betul Natasha itu anakku.”
Jawab pria itu.
Hening beberapa lama, tiba-tiba masuklah dua orang wanita
menuju ke meja Amanda dan pria itu. Kedua wanita itu adalah Natasha dan Aliya,
di leher Aliya tergantung kalung mutiara yang sangat indah. Amanda yang entah
telah berapa kali terkejut dari tadi kali ini benar-benar terkejut hingga dia
berdiri saat melihat Natasha dan Aliya menghampirinya.
“Hai Amanda
senang akhirnya dapat bertemu denganmu..” kata Natasha dengan suara lembutnya
sambil mengulurkan tangannya pada Amanda. Amanda yang tidak bisa berkata-kata
menyambut tangan Natasha dan bersalaman dengannya. Aliya juga melakukan hal
sama, setelah itu Amanda berkata tidak percaya “Jadi kamu masih hidup, aku
kira..aku kira” “kamu kira aku mati begitu, enak saja.. aku paling tidak harus
mendapat pacar seganteng Tom Cruise baru aku rela mati..haha” Natasha berkata
ceria, jelas dia sehat-sehat saja. “Jangan mimpi Nath, aku yang akan mendapat
pacar seganteng Tom Cruise, kamu paling hanya akan pacaran dengan pria
seganteng ayahmu” kata Aliya sambil memandang ayahnya Natasha, ayah Natasha
berkata “aku tidak sudi punya pacar seperti kalian semua” mereka semua tertawa.
Jadi memang
operasi yang dijalani Natasha berakhir dengan sukses waktu itu, para dokter
hanya bisa berkata bahwa itu “Mujizat yang mustahil” dan sekarang Natasha dan
Aliya masuk ke universitas yang sama. Setelah Natasha sembuh, entah mengapa dia
tidak bisa menemukan buku hariannya lagi sehingga ia menulis di buku yang baru
sejak ia selesai operasi. Natasha tidak bisa menemukan buku harian lamanya
karena Ayahnya tidak ingin lagi anaknya menulis saat sakit sehingga buku itu
disembunyikannya.
Baru pada malam
itu saat Ayahnya sedang berdoa, Ayah Natasha membawa buku itu keluar bersamanya
menuju taman. Teman Baik yang dimaksud Ayah Natasha tentu saja adalah Tuhan,
nantinya Ayah Amanda juga akan bercerita pada Amanda bahwa alasan dia, Natasha
dan Aliya waktu itu ada di café yang sama dengan Amanda juga karena suara Tuhan
yang menyuruhnya. Sejak peristiwa malam itu di taman, ayah Natasha menceritakan
semuanya pada Natasha dan Aliya, tadinya dua anak itu tidak percaya hingga
mereka lihat Amanda sendiri sekarang.
Jadi begitulah,
mulai hari itu Amanda belajar bahwa yang namanya kebetulan itu sama sekali
tidak ada. Akhirnya hanya ada satu pertanyaan lagi yang ingin Amanda tanyakan, “Aliya,
hadiah apa yang ingin kamu berikan pada Natasha tiga tahun lalu?” Aliya
menjawab “Poster Justin Bieber..”
Ditulis oleh: Thomas Mulia Contributor @GodBesideUs




kereennn , serius kak, keren bngt crta nya ,, CETAR MEMBAHANA :D hahhaha .. banyk bngt yk d ajarin dri crta nii , aku suka :))
BalasHapusIt's so touching! ^^
BalasHapussangat memberkati! :)
BalasHapus