Rabu, 09 Januari 2013

The Voice of God




Perjalanan itu adalah perjalanan yang berat. Amanda sudah melangkah lebih kurang dua puluh menit dan masih belum mencapai tempat yang ingin ia tuju. Di malam yang dingin, Amanda memeluk dirinya sendiri didalam jaketnya. Jalanan sudah sepi, Amanda yang berjalan di trotoar sesekali melihat hanya ada beberapa mobil yang lewat di jalan raya. Amanda melihat jamnya yang telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam dan memutuskan untuk istirahat sejenak di kursi taman yang sedang ia lewati. Di kursi taman itu dia kembali mengatakan pada dirinya sendiri berulang-ulang, sebentar lagi Amanda, sebentar lagi semuanya akan selesai, Tak akan ada lagi tangisan dan kekecewaan.



 Disaat ia sedang tenggelam dalam lamunannya munculah sesosok pria yang berjalan melewatinya, Amanda tadinya tak terlalu memperhatikan pria berbadan besar dengan menggunakan jaket coklat itu hingga pria itu menjatuhkan sebuah buku kecil dari tangannya tepat di depan Amanda. Disaat melihat buku yang dipegang pria itu jatuh, Amanda langsung berkata "hei, Pak buku anda jatuh.." tapi Pria itu tidak benghiraukan Amanda dan terus melangkah menjauh dan menghilang dalam kegelapan malam. Tadinya Amanda mau mengejar pria itu untuk mengembalikan bukunya, tapi dia pikir peduli amat. Aku sudah memanggilnya tapi dia tidak menghiraukan aku, biar saja dia mengambil bukunya sendiri bila ia mau, kata Amanda pada dirinya sendiri.


Jadi disanalah Amanda sendirian di taman pada tengah malam dengan buku kecil bersampul putih berada tepat di depan kakinya. Setelah sepuluh menit berdiam diri, akhirnya Amanda tidak tahan lagi dan mengambil buku kecil yang dijatuhkan pria berjaket coklat itu dan membukanya. Itu adalah Buku yang cukup tua, setelah dia membalik-balik halamannya ternyata buku itu adalah buku harian seorang anak perempuan berusia enam belas tahun seperti dirinya. Amanda mengetahui itu karena di halaman pertama buku itu tertulis "Catatan Harian Natasha, enam belas tahun. jakarta"


 Amanda kembali membalik-balik buku itu dan membaca secara acak halamannya. Akhirnya dia membuka halaman yang tertulis tanggal tiga Agustus dua ribu sepuluh, dan mulai membacanya. Tulisan yang Amanda baca adalah ini

“Hari ini sangat menyenangkan, aku akhirnya mendapat teman di sekolah baruku. Nama dia adalah Aliya, dia anak yang manis dengan rambut hitam sebahu dan kulit hitam manis. Memang penampilannya sangat berbeda jika dibanding aku yang berkulit putih dan rambut hitam sepunggung, tapi Aliya adalah anak yang baik. Aku kira tadinya aku akan menutup diriku di sekolah baru ini. Karena kematian ibu akibat kecelakaan mobil yang begitu membuatku terpukul aku memutuskan menutup diriku dan tidak mau bicara pada siapapun di sekolah lamaku. Ayah yang mencemaskan hal ini memindahkan aku di sekolahku yang sekarang dengan harapan aku dapat melupakan masa laluku dan melanjutkan hidup.”

 Setelah membaca di tanggal itu Amanda kembali membalik buku harian Natasha lebih jauh, dan berhenti di tanggal lima belas desember dua ribu sepuluh. Pada hari itu yang Natasha tulis adalah ini

“Tahun baru sudah dekat! semua anak-anak di sekolah sudah ramai membicarakan tentang acara tukar kado pada malam pergantian tahun nanti. Pada malam tahun baru sekolah merencanakan perayaan pergantian tahun, akan ada acara pesta kembang api dan pertunjukkan musik di sekolah, pokoknya seru deh! Aliya bahkan sejak awal september katanya sudah mempersiapkan kado khusus untukku, saat aku tanya apa yang nanti akan dia berikan untukku, Aliya hanya menjawab singkat 'Kalo aku kasih tau skarang, ga seru lagi kan jadinya' jadi ya sudahlah aku tidak memaksanya memberi tahuku hadiah apa yang nanti akan dia berikan.

 Aku sendiri belum tahu akan memberi hadiah apa pada Aliya hingga kemarin. Kemarin malam saat aku berkata pada Ayah jika aku ingin memberi Aliya kado saat malam pergantian tahun tapi belum mendapat ide, Ayah tersenyum dan masuk ke kamarnya. Dia keluar kamar dengan membawa kotak hitam persegi panjang seperti tempat pulpen mewah, tapi bedanya didalam kotak itu isinya bukan pulpen tapi isinya kalung mutiara yang sangat indah. Ayah bilang kalung itu adalah kalung yang biasa dipakai ibu dulu, saat aku bertanya apakah ayah rela jika kalung itu aku berikan pada Aliya, ayah menjawab 'Semenjak ibu meninggal sepertinya hanya Aliya yang bisa membuatmu menjadi bahagia lagi, Jika bukan sahabatmu itu ayah tidak tahu siapa lagi yang pantas mendapat kalung ini untuk dapat menemanimu' aku sangat berterima kasih pada Ayah dan membungkus kalung itu dengan indah untuk kuberikan pada Aliya nanti.”


 Tulisan Natasha berakhir disitu, Amanda penasaran hadiah apa yang nanti akan diberikan Aliya pada Natasha dan bagaimana reaksi Aliya saat diberikan kalung mutiara milik ibu Natasha. Jadi Amanda langsung membalik halaman buku harian Natasha pada tanggal tiga puluh satu Desember dua ribu sepuluh, yang tertulis

“Kemarin aku kecelakaan dan tidak sadarkan diri. Aku seharusnya memperhatikan lampu merah itu sebelum menyebrang! Dokter bilang aku harus melakukan operasi karena Kepalaku mengalami pendarahan. Aku merasa aku tidak akan selamat dan akan mati, perkataan dokter yang mengatakan aku akan baik-baik saja tak bisa menghiburku. Tadi malam Ayah menangis saat mendengar perkataan dokter dalam kamar perawatanku, waktu itu Ayah mengira aku masih tak sadarkan diri. Saat itu aku mendengar perkataan dokter yang berkata pada Ayah hanya ada sedikit kemungkinan operasi itu berhasil dan aku akan tetap hidup.

 Kakiku patah dan tangan kananku tak dapat kugerakkan, aku menulis dengan menggunakan tangan kiri sekarang. Ayah memintaku untuk tak menulis dan beristirahat untuk persiapan operasi. Tapi aku tidak mau, aku merasa ini adalah tulisan terakhir yang bisa aku tulis. Aliya belum datang menjenguk, aku kira sampai sekarang Aliya belum mengetahui jika aku mengalami kecelakaan. Aku sudah memberi tahu Ayah untuk memberikan kalung mutiara itu padanya nanti jika aku tidak bisa bertemu dengan dia lagi untuk terakhir kalinya. Ironis memang, Ibu meninggal karena kecelakaan mobil dan sekarang aku akan menemuinya di surga dengan cara yang sama. Aku hanya ingin bilang sekarang Bagi kamu yang sedang membaca buku harianku ini, jangan sia-siakan hidup kamu. Selalu ada alasan untuk tetap bahagia, dan jangan terlalu banyak menyesali diri sendiri karena hidup ini hanya sekali. Tertawalah lebih banyak, menangislah lebih sedikit dan mengucap syukurlah pada Tuhan selalu.
 Mungkin memang hidup ini tidak berjalan seperti yang kamu mau, tapi akan selalu ada alasan untuk terus melanjutkan hidup ini.”

 Natasha menulis hanya sampai disitu, Amanda membalik-balik lagi halaman buku harian itu tapi tak dapat menemukan tulisan Natasha lainnya lagi. Setelah tanggal tiga puluh satu Desember hanya ada halaman-halaman putih kosong yang tidak pernah ditulis. Mengetahui Natasha tidak lagi menulis setelah tiga puluh satu Desember, Amanda menutup buku itu dalam pangkuannya. Tulisan Natasha terakhir yang berkata "Selalu ada alasan untuk melanjutkan hidup ini" terdengar terus di kuping Amanda.


 Sebenarnya Tadi pagi Amanda mendapat kabar dari ayahnya di rumah sakit bahwa ibunya telah meninggal karena kecelakaan, mendengar itu Amanda begitu terpukul. Malam ini Amanda berjalan pada tengah malam bertujuan untuk pergi ke jembatan layang yang ada di tengah kotanya, Di jembatan itu Amanda berencana untuk melompat bunuh diri. Lalu tiba-tiba saja Amanda menangis, air mata Amanda berjatuhan membasahi buku harian Natasha di pangkuannya. Akhirnya dia berkata pada dirinya sendiri, kematian ibu memang tidak dapat aku terima tapi aku tahu sekarang bunuh diri bukan jawabannya. Amanda bersyukur karena telah membaca buku peninggalan Natasha yang membuat dia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri.

***

Bertahun-tahun kemudian Amanda sedang duduk di Cafe bersama teman-temannya dekat kampus sambil menyelesaikan tugas kuliahnya. Amanda sekarang masuk kuliah jurusan kedokteran, dia ingin menjadi dokter untuk menolong banyak korban kecelakaan jalan raya. Amanda asik mengobrol dengan teman-temannya sambil mengerjakan tugas kuliahnya dengan menggunakan laptop saat dia melihat seorang yang sepertinya ia kenal masuk ke dalam cafe dan duduk di depannya. Lima menit penuh Amanda mengamati orang itu sampai akhirnya ia sadar jika pria itu adalah pria yang menjatuhkan buku harian Natasha di taman pada malam itu! Amanda langsung bangkit berdiri dari kursinya dan mencari buku harian Natasha di dalam tasnya.


Amanda memang selama ini selalu membawa buku harian Natasha kemanapun dia pergi, Saat berada di depan orang itu Amanda memperkenalkan diri “Permisi pak, saya..” tapi sebelum Amanda sempat menyelesaikan kalimatnya si pria mengangkat tangannya tanda menyuruh Amanda diam. Dengan cepat si pria berdiri dan berkata “kau pasti Amanda, sudah lama aku ingin berjumpa denganmu..” Amanda terkejut, bagaimana pria ini tahu namaku pikirnya dalam hati.

Pria itu mengulurkan tangannya dengan senyuman yang tak mungkin ditolak siapapun, Amanda menyambut tangannya dan bersalaman dengannya. Dia meminta dengan gerakan tangannya supaya Amanda duduk bersamanya yang dipatuhi Amanda, Lalu Amanda bertanya “Bagaimana bapak bisa tahu namaku?” “aku tahu namamu dari seorang Teman Baikku, Bahkan Teman Baikku itu juga yang bilang aku akan menemuimu hari ini disini, dan ternyata Dia benar lagi.” Jawab pria itu singkat. Amanda ingin bertanya siapa Teman Baiknya itu tapi dia memiliki hal yang lebih penting yang harus ia lakukan. Amanda menyerahkan buku harian Natasha pada pria itu sambil berkata “Buku ini telah menyelamatkan hidupku.” Pria itu menerima buku itu sambil tersenyum saat melihatnya.

Lalu Amanda menceritakan semuanya pada pria itu saat ia membaca buku harian Natasha di taman pada malam itu. Pria itu mendengarkan dengan sabar tanpa ekspresi dan bertanya, dia hanya diam dan mengangguk-ngangguk saat Amanda bercerita dari awal hingga akhir. Saat Amanda selesai, pria itu kembali tersenyum dan berkata “Kamu tahu Amanda, kenapa malam itu aku tidak menyautmu saat kamu bilang aku menjatuhkan buku harian ini?” “tidak..” kata Amanda bingung.

“Itu karena aku memang sengaja menjatuhkan buku ini untukmu, aku ingat pada malam itu aku sedang berada di kamarku dan berdoa seperti biasanya saat aku mendengar suara yang mengatakan aku harus pergi ke taman pada malam itu juga sambil membawa buku harian anakku Natasha.” Amanda terkejut, tapi tak mengatakan apa-apa.

Si pria melanjutkan “Jadi karena aku tahu itu suara Tuhan aku hanya menurut saja. Aku pergi ke taman membawa buku harian Natasha saat aku melihatmu duduk sendirian di Taman. Suara Tuhan berkata lagi disana bahwa aku harus memberikan buku Natasha padamu. Jadi itulah yang aku lakukan, aku melewatimu dan menjatuhkan buku itu dan pergi.” Amanda mulai mengeluarkan air mata saat pria itu mengatakan kalimat terakhirnya, dari kejahuan dia dapat melihat wajah bingung teman-temannya yang melihat mukanya memerah, tapi dia tidak peduli.
“Jadi semua ini bukan kebetulan, dan Natasha itu anak bapa?” Tanya Amanda dengan suara tertahan. “Iya aku rasa ini bukan kebetulan, dan betul Natasha itu anakku.” Jawab pria itu. 

Hening beberapa lama, tiba-tiba masuklah dua orang wanita menuju ke meja Amanda dan pria itu. Kedua wanita itu adalah Natasha dan Aliya, di leher Aliya tergantung kalung mutiara yang sangat indah. Amanda yang entah telah berapa kali terkejut dari tadi kali ini benar-benar terkejut hingga dia berdiri saat melihat Natasha dan Aliya menghampirinya.

“Hai Amanda senang akhirnya dapat bertemu denganmu..” kata Natasha dengan suara lembutnya sambil mengulurkan tangannya pada Amanda. Amanda yang tidak bisa berkata-kata menyambut tangan Natasha dan bersalaman dengannya. Aliya juga melakukan hal sama, setelah itu Amanda berkata tidak percaya “Jadi kamu masih hidup, aku kira..aku kira” “kamu kira aku mati begitu, enak saja.. aku paling tidak harus mendapat pacar seganteng Tom Cruise baru aku rela mati..haha” Natasha berkata ceria, jelas dia sehat-sehat saja. “Jangan mimpi Nath, aku yang akan mendapat pacar seganteng Tom Cruise, kamu paling hanya akan pacaran dengan pria seganteng ayahmu” kata Aliya sambil memandang ayahnya Natasha, ayah Natasha berkata “aku tidak sudi punya pacar seperti kalian semua” mereka semua tertawa.

Jadi memang operasi yang dijalani Natasha berakhir dengan sukses waktu itu, para dokter hanya bisa berkata bahwa itu “Mujizat yang mustahil” dan sekarang Natasha dan Aliya masuk ke universitas yang sama. Setelah Natasha sembuh, entah mengapa dia tidak bisa menemukan buku hariannya lagi sehingga ia menulis di buku yang baru sejak ia selesai operasi. Natasha tidak bisa menemukan buku harian lamanya karena Ayahnya tidak ingin lagi anaknya menulis saat sakit sehingga buku itu disembunyikannya.

Baru pada malam itu saat Ayahnya sedang berdoa, Ayah Natasha membawa buku itu keluar bersamanya menuju taman. Teman Baik yang dimaksud Ayah Natasha tentu saja adalah Tuhan, nantinya Ayah Amanda juga akan bercerita pada Amanda bahwa alasan dia, Natasha dan Aliya waktu itu ada di café yang sama dengan Amanda juga karena suara Tuhan yang menyuruhnya. Sejak peristiwa malam itu di taman, ayah Natasha menceritakan semuanya pada Natasha dan Aliya, tadinya dua anak itu tidak percaya hingga mereka lihat Amanda sendiri sekarang.

Jadi begitulah, mulai hari itu Amanda belajar bahwa yang namanya kebetulan itu sama sekali tidak ada. Akhirnya hanya ada satu pertanyaan lagi yang ingin Amanda tanyakan, “Aliya, hadiah apa yang ingin kamu berikan pada Natasha tiga tahun lalu?” Aliya menjawab “Poster Justin Bieber..”


Ditulis oleh: Thomas Mulia Contributor @GodBesideUs

3 komentar:

  1. kereennn , serius kak, keren bngt crta nya ,, CETAR MEMBAHANA :D hahhaha .. banyk bngt yk d ajarin dri crta nii , aku suka :))

    BalasHapus
  2. It's so touching! ^^

    BalasHapus
  3. sangat memberkati! :)

    BalasHapus