Semuanya berawal di sebuah kota
besar metropolitan. Disebuah Apartemen di tengah kota itu tinggalah satu
keluarga kecil yang suami dan istrinya memiliki sepasang anak kembar perempuan.
Kedua anak kembar perempuan itu memiliki rambut hitam sebahu, mata coklat dan
kulit putih, Mereka berdua biasanya selalu bermain bersama-sama. Mereka berdua
adalah anak yang cantik, Tapi masalahnya saat mereka bermain bersama, mereka
berdua selalu bertengkar. Si kakak kembar pertama bernama Amanda adalah anak
yang baik hati. Biasanya Amanda yang selalu mengalah saat adik kembarannya
bernama Anita memulai ulahnya. Amanda dan Anita walaupun kembar identik tapi
sifat mereka bagaikan langit dan bumi.
Amanda adalah tipe kakak yang selalu
berusaha menjaga adiknya, dia dengan senang hati akan membagikan kue miliknya
dengan Anita jika Anita memintanya, dan juga saat jalan-jalan ke mall Amanda
akan berusaha menggandeng tangan Anita dengan erat untuk memastikan mereka
selalu bersama-sama dan tak terpencar. Tapi Anita tidak seperti itu, dari kecil
dia telah menjadi pemberontak alami. Dia senang melawan orang tuanya dan sangat
sulit diatur. Seringkali sifat buruk Anita ini membawa Amanda dalam kesulitan
juga.
Sekali waktu di sekolah saat jam makan siang,
Anita pergi ke ruang guru untuk mencuri soal ulangan agar dia dapat
menconteknya. Sialnya tepat saat Anita sedang mengobrak-abrik meja gurunya,
petugas kebersihan datang mempergokinya. Anita yang kaget langsung berlari ke
jendela dan kabur, tapi saat ia sedang berlari terburu-buru bajunya ketumpahan
tinta yang ada di meja gurunya sehingga meninggalkan noda di seragamnya.
Setelah Anita berhasil kabur, Anita mencari
Amanda dan memohon padanya untuk menukar seragamnya, dia berkata "Amanda
please dong tukeran seragam, abis ini gw ada ulangan sejarah. Gurunya killer
abis, bisa-bisa ga ikut ulangan gw kalo pake baju ada noda gini" Amanda
yang sama sekali tidak curiga langsung setuju menukar seragam dengan adiknya.
Sehingga saat guru dan petugas kebersihan itu mendatangi kelas mereka berdua yang
terpisah, Amandalah yang kena batunya. Saat dia dipaksa mengaku oleh gurunya
Amanda hanya bisa bilang "aku tidak tahu apa-apa!" tapi bagaimanapun
Amanda tidak mau memberi tahu itu semua ulah Anita. karena rasa sayangnya pada
Anita akhirnya dia mau menanggung hukuman akibat perbuatan adiknya itu.
Jadi begitulah, Amanda seringkali harus
menahan amarahnya karena perbuatan adiknya itu. Sementara itu Anita sama sekali
tidak bisa di beri nasihat, bagi dia hidup adalah untuk dirinya sendiri. Dia
tidak peduli jika dia harus menyakiti perasaan orang lain asalkan dia bisa
mendapat apa yang dia inginkan. Hingga akhinya walaupun dari kecil mereka
selalu bersama, saat mereka telah lulus SMA mereka harus menentukan masa
depannya masing-masing.
Amanda berencana untuk masuk Kuliah jurusan
hukum, mungkin dipengaruhi oleh masa kecilnya yang selalu diperlakukan
seenaknya oleh Anita, dia memutuskan untuk menegakkan keadilan. Sedangkan Anita
sama sekali tidak ada rencana untuk melanjutkan kuliah, setelah lulus SMA dia
hanya berkata "Akhirnya gw bebas, ga usah belajar lagi seumur hidup
gw!" yang ada dipikirannya hanya ada kata pesta, pesta dan pesta. Hingga
akhirnya terjadi satu kejadian dimana Anita kabur dari rumahnya dan tak pernah
kembali lagi bersama teman-temannya.
Orang tua Anita tak memusingkan kejadian
itu, mereka sendiri sudah lelah dengan perilaku Anita dan merelakan dia pergi
karena mereka menganggap Anita sudah cukup besar untuk memilih tujuan hidupnya
sendiri. Setelah itu puluhan tahunpun berlalu, Amanda sekarang berada di usia
tigapuluhan dan dia sekarang sudah menjadi hakim yang disegani masyarakat
sekitar. Keputusannya selalu dianggap adil oleh para penegak hukum lain.
Sepertinya tak ada perkara yang terlalu sulit bagi Amanda untuk memutuskannya.
Dengan berpegang pada hukum yang berlaku, tangan dinginnya Amanda selalu
mengambil keputusan dengan lurus tanpa keringanan. Semua orang bersalah pantas
dihukum, itulah moto yang dia pegang sebagai hakim.
Hingga akhirnya pada suatu hari dia harus
menghadapi adiknya sendiri di persidangan. Saat itu Amanda sedang duduk di
kursi hakim sedangkan Anita berada di kursi terdakwa. Hidup bebas
bertahun-tahun lalu membuat Anita menjadi pecandu narkoba berat, Anita menikahi
pria yang salah dan menyebabkan hidupnya makin terpuruk, di kondisi hidupnya
yang makin jatuh ke bawah dia memutuskan menjadi pengedar narkoba bersama
suaminya. Dan suatu waktu saat mereka berdua sedang melakukan transaksi, polisi
datang menangkap mereka. Langsung saja Suami Anita meninggalkan Anita sendiri
untuk ditangkap sementara dia kabur dari penyergapan itu.
Hukum di negara itu jelas, hukuman bagi
pengedar narkoba hanyalah hukuman mati. Jadi begitulah, setelah melalui proses
hukum yang panjang, tiba saatnya hakim menjatuhi vonis. Tanpa ampun pada hari
itu Amanda mengetok palunya seraya berkata "Pengadilan menyatakan terdakwa
bersalah, vonisnya adalah hukuman mati!" Anita menerima vonis dari
kakaknya sendiri dengan wajah marah, saat dia diseret keluar dari ruang
persidangan dia berteriak pada kembarannya itu yang masih duduk di kursi hakim
"kau jahat Amanda! Betapa teganya kau melakukan ini terhadapku, kembaranmu
sendiri!" tapi wajah Amanda tak berubah dan hanya memberikan ekspresi
kosong dimukanya saat melihat kembarannya itu dibawa keluar oleh petugas.
Setelah itu Hari-haripun berlalu, waktu
eksekusi Anita semakin dekat, setiap malam di ruangan selnya yang dingin dan
sempit Anita hanya bisa merenung marah atas perbuatan yang dilakukan kakaknya
itu, jahat! Sangat jahat! Apakah yang aku lakukan saat kita berdua masih anak-anak
masih begitu berbekas dihatinya hingga sekarang. Karena dendamkah iya
menghukumku begini, tapi ini tidak main-main, ini hukuman mati! Kata Anita pada
dirinya sendiri berulang-ulang. Malam demi malampun berlalu mendekati hari
eksekusi matinya. Satu malam terakhir sebelum hari eksekusi, Anita tidak tahan
lagi dan hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Dia ditinggal sendiri, tak ada
yang menemaninya menjelang saat-saat kematiannya. Disaat dia sedang menyesali
segala hal yang telah dia lakukan selama ini pada malam itu, tiba-tiba dia
mendengar suara pintu selnya dibuka.
Anita memandang pintu sel dan melihat Amanda
masuk menghampirinya. Anita yang kaget berkata "mau apa kau.." tapi
kata-katanya terputus, Amanda menutup mulut Anita dengan tangannya dan berkata
berbisik padanya "Dengar baik-baik waktu kita tidak banyak lagi, cepatlah
buka bajumu dan ganti dengan bajuku ini, biar aku menggantikan posisimu dan
menjadi dirimu. Setelah kamu memakai bajuku dan menjadi aku, cepatlah pergi
keluar penjara dan jangan pernah kembali" Anita yang syok, berkata
"maksudmu, kamu mau menggantikan aku untuk mati? Setelah semua perbuatan
jahat yang pernah aku lakukan dulu padamu.." saat Anita mengatakan ini tak
ada lagi kemarahan di wajahnya, hanya ada ekspresi sedih.
Dia tak menyangka bahwa kakaknya begitu
mencintainya selama ini sehingga ia mau melakukan ini semua untuknya. Amanda
tersenyum memandang adiknya dan berkata " Tidak mengapa, aku tahu kita tak
bisa melanggar hukum. Tapi dibanding aku melihat adikku sendiri mati, lebih baik
aku yang mati. Tenanglah Anita, anggap ini seperti dulu saat kamu menyuruhku
menukar seragam kita, bedanya sekarang aku yang memintamu untuk menukar baju
kita. Pakai kesempatan yang aku berikan ini sebagai kesempatan hidupmu yang
kedua, perbaiki hidupmu yang berantakan dan jangan pernah menyerah"
Anita tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia
hanya bisa memeluk kakaknya dengan erat dan menangis di pelukannya itu. Setelah
itu Anita langsung melakukan apa yang disuruh Amanda dan pergi menjauh dari
penjara. Amanda yang ada disel menggantikan Anita, hanya terdiam didalam tanpa
rasa takut, dia rela mati menggantikan adiknya yang suka memberontak itu
semata-mata hanya karena cintanya. Pada akhirnya Anita menjadi manusia yang seperti
terlahir kembali dan hidup benar, bertobat dari segala dosanya karena menyadari betul kehidupannya yang
sekarang adalah hasil pengorbanan kakaknya sendiri.
Dan tibalah Pada hari eksekusi, Amanda dengan
baju tahanan di bawa ke ruangan tempat dimana dia akan disuntik mati, dia
dibaringkan di atas ranjang dan dokter mengeluarkan suntikan berisi racun yang
akan membunuhnya itu dan menusuknya ke urat nadi Amanda, sesaat sebelum cairan
mematikan itu mengalir kedalam tubuhnya, Amanda memenjamkan matanya dan berkata
"untuk kebebasanmu Anita"
Jadi teman-teman, anggap begini. Amanda
adalah gambaran dari Tuhan Yesus dan Anita adalah kita manusia yang memberontak
pada Tuhan. Kita sebenarnya jatuh didalam dosa begitu dalam hingga tak ada yang
mampu menyelamatkan kita, pernahkah terpikirkan di pikiranmu bahwa yang
harusnya digantung di atas kayu salib adalah kita manusia? Tapi karena Kasihnya
Tuhan, Dia rela mengganti kita di atas salib. Itulah "The Greatest
Love" Kasih Tuhan yang luar biasa dan tak bersyarat yang Ia berikan pada
kita dengan cuma-cuma.
Sadarilah kebebasan kita diperoleh melalui
pengorbanan Tuhan yang begitu mahal, maka jangan gunakan kebebasan itu dengan
cara yang salah. Hiduplah untuk kemuliaan Tuhan, dan hiduplah menurut caraNya.
Ingatlah selalu saat Tuhan Yesus menukarkan nyawaNya gantikan kita itu semua
dilakuan olehNya agar kita beroleh keselamatan. Jadi bagaimana dengan kamu
sekarang? Apakah kamu menjadi seperti Anita yang tidak menyia-nyiakan
kesempatan kedua yang telah diberikan Tuhan, ataukah kamu malah memilih untuk
hidup sama saja, seolah-olah tidak pernah diselamatkan? The Choice is yours...
Yohanes
15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang
memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.
ditulis oleh: Thomas Mulia, Ide Cerita: Ricky Kurniawan, follow him on twitter @ricky_wuiky
0 comments:
Posting Komentar