Nama dia adalah Michael. Tak memakai alas kaki, baju yang robek sana sini dan wajah yang kotor adalah penampilan Michael sehari-sehari. Michael berumur delapan tahun, Dia adalah anak seorang pemulung yang sehari-hari membantu ayahnya mencari sampah atau mengemis di lampu merah yang ada didekat rumahnya. Pada hari minggu, Michael akan duduk-duduk dekat Gereja dan mengemis disitu. Para jemaat yang biasanya lalu lalang didepan Gereja itu memberikan uang dengan jumlah lumayan pada Michael tiap minggunya. Jadi hari minggu adalah salah satu hari yang biasanya ditunggu-tunggu oleh Michael, karena setiap kali dia habis mengemis di depan Gereja itu, dia bisa membeli cheese Burger kesukaannya di restoran cepat saji dekat situ. Ya, bagi Michael bisa makan Cheese Burger kesukaannya adalah hal mewah yang tak bisa ia dapat tiap minggunya. Hasil mengemisnya di hari biasa dan hasil sampah yang ia dapat waktu memulung tak pernah cukup untuk membeli makanan yang sebenarnya murah bagi anak-anak seusianya yang hidup dikeluarga yang berkecukupan. Jadi hanya hari minggulah kesempatan bagi Michael untuk bisa beli burger itu karena penghasilan mengemisnya berlipat kali ganda disaat ia mengemis didepan gereja.
Pada suatu hari, seperti minggu-minggu sebelumnya, Michael sudah ada sejak pukul enam pagi didepan gereja itu untuk mengemis. Mobil-mobil mulai datang dan memarkir didepan halaman luas yang ada di gereja itu. Jemaat mulai berdatangan menyalami satu sama lainnya dengan muka ceria. Michael mengeluarkan kaleng susu kecil dan menaruhnya dilantai tepat didepan dirinya yang sedang duduk ditrotoar depan Gereja. Cling, cling, cling.... suara koin-koin dan terkadang uang kertas mulai jatuh dikaleng milik Michael itu. Michael tersenyum puas, dia sudah tak sabar untuk menghitung uang yang ia dapat hari itu untuk membelikan burger kesukaannya. Sepertinya hari ini jumlah jemaat yang datang lebih banyak dari minggu-minggu sebelumnya. Michael menyadari hal ini saat melihat kaleng tempat uangnya penuh lebih cepat dibanding minggu sebelumnya, mengetahui hal ini membuat Michael tersenyum makin lebar saja. Akhirnya jam dinding dekat Gereja menunjukkan pukul tujuh pagi. Kebaktian telah dimulai, jemaat yang lalu lalang masuk Gereja pun mulai sedikit. Ini waktunya Michael menghitung uangnya dan menunggu restoran cepat sajinya itu buka,
