Kamis, 06 September 2012

Menembak Bulan





Dua anak remaja sedang berbaring di padang rumput yang terletak pada belakang rumah mereka. Nama mereka berdua adalah Steve dan Alice.Kedua anak ini sedang melihat bulan dan bintang-bintang yang berhamburan di atas langit yang luas. Saat itu telah malam, waktu di jam tangan Steve telah menunjukkan pukul sebelas malam lebih tiga puluh menit. Steve bertanya pada Alice “apa yang sedang kamu pikirkan?” “aku sedang berpikir dimana nanti aku berada sepuluh tahun dari sekarang.” Jawab Alice sambil memejamkan matanya.


“kalo kamu?” tanya balik Alice pada Steve sambil membuka matanya dan memandang Steve di sebelah dia. “aku? Hmm...aku sedang berpikir kenapa Tuhan menciptakan bintang-bintang dan meletakkannya di sekitar bulan, padahal bulan sudah cukup untuk menerangi kita.” Steve menjawab sambil melihat bulan yang dia bicarakan, terlihat dari mata Steve pantulan bulan dan bintang-bintang yang dia maksud.

“dasar..tidak adakah hal yang lebih berguna untuk kamu pikirkan dibanding mengomentari langit yang diciptakan Tuhan?” kata Alice setengah geli mendengar jawaban temannya itu. “aku serius, kenapa bintang dibutuhkan saat bulan sudah begitu terang?” kata Steve sambil menunjuk bulan di langit. “Lihat kan? Bintang sama sekali tidak dibutuhkan.”

 Lanjut Steve menjelaskan. “aku tidak tahu, mungkin saja bintang-bintang itu berguna untuk menggantikan terang bulan disaat kita tidak bisa melihatnya.”Alice mencoba menjawab menggunakan teorinya. “kau sudah gila ya? Jika bulan tidak bisa terlihat bagaimana bintang-bintang juga bisa kelihatan?” Steve menjawab temannya itu sambil tersenyum.


“kau punya jawaban yang lebih bagus?” Alice membalas perkataan Steve. “Mungkin Tuhan takut kita nanti bosan hanya melihat bulan.” Mereka bedua tertawa. Tepat saat itu kakak mereka keluar dari rumah dan menghampiri mereka berdua. “apa yang sedang kalian lakukan?” tanya si kakak melihat mereka berdua sedang tertawa. “berdebat!” jawab Alice dan Steve bersama-sama. “tentang apa?” si kakak kembali bertanya penasaran. “kenapa ada bintang disaat bulan sudah begitu terang?” Steve menjawab sambil bertanya bersamaan.


“ooh, itu mudah saja. Tuhan berjaga-jaga jika kalian nanti salah tembak” “maksudnya?” kata Steve heran mendengar jawabannya kakaknya. Si kakak duduk di sebelah mereka berdua sambil menjelaskan perkataannya. “kalian punya impian kan? Bayangkan impian kalian itu adalah bulan dilangit, dan satu-satunya cara untuk mewujudkan impian kalian adalah dengan menembaknya.” Si kakak menjelaskan sambil memandang wajah bingung kedua anak itu, lalu melanjutkan perkataanya “apa yang terjadi jika kalian salah menembak bulan kalian?” si kakak bertanya pada mereka berdua.

 “tembakan kami akan mengenai bintang?” Alice menjawab ragu-ragu.
“yup! Betul, tembakan meleset kalian akan mengenai bintang. Itulah gunanya impian yang besar, disaat kalian gagal mendapat impian kalian yang setinggi bulan bukan berarti kalian tidak mendapat apa-apa. Proses yang telah kalian lalui untuk mewujudkan impian kalian adalah bintang-bintang berharga yang mungkin kadang nilainya lebih mahal dari bulan itu sendiri.” Si kakak menyimpulkan. setelah mendengar jawaban si kakak, Alice dan Steve melihat kembali bulan dan bintang-bintang itu sambil saling tersenyum.

Guys, bermimpilah setinggi bulan! Mungkin sekarang mimpi kalian terlihat mustahil, tapi tidak lagi sepuluh tahun mendatang asal kalian bertindak hari ini. Lagipula ingatlah selalu disaat tembakan kalian meleset kalian masih bisa mendapat bintang. Be Bless :)

Yeremia 29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Ditulis Oleh: Thomas Mulia. Contributor @EchoingHisVoice


0 comments:

Posting Komentar