Dua anak remaja sedang berbaring di padang rumput yang
terletak pada belakang rumah mereka. Nama mereka berdua adalah Steve dan Alice.Kedua
anak ini sedang melihat bulan dan bintang-bintang yang berhamburan di atas
langit yang luas. Saat itu telah malam, waktu di jam tangan Steve telah
menunjukkan pukul sebelas malam lebih tiga puluh menit. Steve bertanya pada Alice
“apa yang sedang kamu pikirkan?” “aku sedang berpikir dimana nanti aku berada
sepuluh tahun dari sekarang.” Jawab Alice sambil memejamkan matanya.
“kalo kamu?” tanya balik Alice pada Steve sambil membuka
matanya dan memandang Steve di sebelah dia. “aku? Hmm...aku sedang berpikir
kenapa Tuhan menciptakan bintang-bintang dan meletakkannya di sekitar bulan,
padahal bulan sudah cukup untuk menerangi kita.” Steve menjawab sambil melihat
bulan yang dia bicarakan, terlihat dari mata Steve pantulan bulan dan
bintang-bintang yang dia maksud.
“dasar..tidak adakah hal yang lebih berguna untuk kamu
pikirkan dibanding mengomentari langit yang diciptakan Tuhan?” kata Alice
setengah geli mendengar jawaban temannya itu. “aku serius, kenapa bintang dibutuhkan
saat bulan sudah begitu terang?” kata Steve sambil menunjuk bulan di langit.
“Lihat kan? Bintang sama sekali tidak dibutuhkan.”
Lanjut Steve menjelaskan.
“aku tidak tahu, mungkin saja bintang-bintang itu berguna untuk menggantikan
terang bulan disaat kita tidak bisa melihatnya.”Alice mencoba menjawab menggunakan
teorinya. “kau sudah gila ya? Jika bulan tidak bisa terlihat bagaimana
bintang-bintang juga bisa kelihatan?” Steve menjawab temannya itu sambil
tersenyum.
“kau punya jawaban yang lebih bagus?” Alice membalas
perkataan Steve. “Mungkin Tuhan takut kita nanti bosan hanya melihat bulan.”
Mereka bedua tertawa. Tepat saat itu kakak mereka keluar dari rumah dan
menghampiri mereka berdua. “apa yang sedang kalian lakukan?” tanya si kakak
melihat mereka berdua sedang tertawa. “berdebat!” jawab Alice dan Steve
bersama-sama. “tentang apa?” si kakak kembali bertanya penasaran. “kenapa ada
bintang disaat bulan sudah begitu terang?” Steve menjawab sambil bertanya
bersamaan.
“ooh, itu mudah saja. Tuhan berjaga-jaga jika kalian
nanti salah tembak” “maksudnya?” kata Steve heran mendengar jawabannya
kakaknya. Si kakak duduk di sebelah mereka berdua sambil menjelaskan
perkataannya. “kalian punya impian kan? Bayangkan impian kalian itu adalah
bulan dilangit, dan satu-satunya cara untuk mewujudkan impian kalian adalah
dengan menembaknya.” Si kakak menjelaskan sambil memandang wajah bingung kedua
anak itu, lalu melanjutkan perkataanya “apa yang terjadi jika kalian salah
menembak bulan kalian?” si kakak bertanya pada mereka berdua.
“tembakan kami
akan mengenai bintang?” Alice menjawab ragu-ragu.
“yup! Betul, tembakan meleset kalian akan mengenai
bintang. Itulah gunanya impian yang besar, disaat kalian gagal mendapat impian
kalian yang setinggi bulan bukan berarti kalian tidak mendapat apa-apa. Proses
yang telah kalian lalui untuk mewujudkan impian kalian adalah bintang-bintang
berharga yang mungkin kadang nilainya lebih mahal dari bulan itu sendiri.” Si
kakak menyimpulkan. setelah mendengar jawaban si kakak, Alice dan Steve melihat
kembali bulan dan bintang-bintang itu sambil saling tersenyum.
Guys, bermimpilah setinggi
bulan! Mungkin sekarang mimpi kalian terlihat mustahil, tapi tidak lagi sepuluh
tahun mendatang asal kalian bertindak hari ini. Lagipula ingatlah selalu disaat
tembakan kalian meleset kalian masih bisa mendapat bintang. Be Bless :)
Yeremia 29:11 Sebab Aku ini
mengetahui rancangan-rancangan yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah
firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan,
untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Ditulis Oleh: Thomas Mulia. Contributor @EchoingHisVoice

0 comments:
Posting Komentar