Tuhan Bertindak
Seorang Pria berumur dua
puluh tahunan berjalan lambat menelusuri trotoar. Pemuda ini terlihat lesu,
kepalanya tertunduk, kakinya lebih terlihat menyeret dibanding berjalan,
matanya lebam seperti orang yang sudah tidak tidur berminggu-minggu dan Rambut
hitamnya acak-acakan tertempel di atas keningnya. Setelah berjalan beberapa
saat dia melihat taman dan duduk di salah satu bangku tamannya. Di sebelah
bangku yang dia duduki terdapat lampu taman yang mulai redup yang sepertinya
mau padam, saat itu tengah malam.
Dia terdiam, dan
memikirkan hal-hal yang baru menimpa dia pada hari itu. Pada pagi hari pemuda
ini mendapat telpon dari dosennya yang mengatakan dia harus mengulang kembali
membuat tugas makalahnya atau terancam tinggal kelas. Makalah yang dia kerjakan
selama dua bulan penuh dengan kerja keras harus dia mulai dari nol lagi, pada
siang hari ibu kos sudah memperingatkan dia untuk membayar iuran bulanan
kamarnya yang tertunggak tiga bulan atau dia boleh keluar keesokan harinya.
Belum lagi kabar, ibunya meminta dia
untuk kembali ke rumah karena mungkin saja ibunya tidak akan bertahan lama lagi
hidup di dunia karena sakit parah.
Dia menatap lantai taman
dan mengetahui segalanya telah berakhir. Dia tidak memiliki harapan, dia merasa
hampa dan semakin lama dia memikirkan jalan keluar yang dia dapat hanyalah
jalan buntu. Lalu tiba-tiba saja dia mendengar ketukan sepatu menyentuh lantai
yang suaranya makin mendekat kearah dia. Dia mengangkat kepalanya dan melihat
sesosok pria tua berdiri di hadapannya. Pria tua ini tersenyum ramah sambil
berkata “boleh aku duduk disebelahmu nak?”. Pemuda ini tidak menjawab
pertanyaannya.
Masih tersenyum pria tua
ini membungkukkan badannya dan mengambil tempat disebelah pemuda itu. Pemuda
itu sama sekali tidak peduli dengan adanya kehadiran pria tua ini dan kembali
merenung menatap lantai taman. Setelah hening beberapa saat pria tua ini
berkata “aku tahu apa yang sedang kau rasakan.” Pemuda itu hanya diam saja.
Pria tua melanjutkan
berkata “di umurmu yang masih muda seperti ini seharusnya kamu jangan dulu
berputus asa.” “apa maumu!?” pemuda ini merespon perkataan si orang tua dengan
nada kesal, sekarang tengah malam dan dia tidak sudi di ceramahi oleh seseorang
yang tidak dia kenal. “Jangan menyerah Josh..” kata pria tua itu sambil menatap
langsung mata Josh. “bagaimana kamu tahu namaku?” Josh menjawab terkejut.
Josh melihat lawan
bicaranya dengan seksama, yang dia lihat adalah seorang pria tua yang mungkin
berumur sekitar enam puluh tahunan, dengan rambut ubanan dan garis-garis keriput
di sekitar permukaan wajahnya. “aku hanya tahu saja” jawab pria tua itu dengan
senyum misterius. “mungkin kita pernah bertemu di suatu tempat atau apalah..
tapi aku hanya mau sendirian ok?” Josh berkata pada pria tua itu dan berdiri
untuk menjauhinya.
Saat ia berdiri pria tua itu mengambil tangannya dan
menariknya duduk kembali seraya berkata “berikan aku waktu lima menit untuk
berbicara setelah itu kau boleh pergi kemanapun untuk menjauhiku.” Kata pria
tua itu memohon. Josh tidak mau mendengarkan dan berusaha untuk bangkit kembali
lagi. “Mungkin apa yang aku katakan akan mengubah hidupmu untuk selamanya” kata
pria tua itu lagi.
Josh yang telah berdiri
memikirkan perkataan pria tua itu sejenak lalu memutuskan untuk kembali duduk
mendengarkan. Dia mendengarkan bukan karena penasaran dengan apa yang akan
dikatakan pria tua itu, tapi dia sendiri sebenarnya bingung mau pergi kemana di
waktu tengah malam itu, kakinya juga sangat lelah karena telah berjalan tanpa
arah berjam-jam. “Bagus..” pria tua itu berkata senang dan melanjutkan,
“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang
tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan
membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan
memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”
Josh yang mendengar
perkataan pria tua itu terdiam beberapa saat dan menjawab perkataanya, “mudah
bagimu mengatakan demikian tapi untuk apa semua pencobaan ini!?” Josh berkata
dengan suara yang agak tinggi. Pria tua itu menjawabnya dengan perkataan
“saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke
dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu
itu menghasilkan ketekunan. Dan biarlah ketekunan itu memperoleh buah yang
matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”
“aku takut menghadapi
perncobaan-pencobaan ini...” lanjut Josh berkata, entah mengapa tiba-tiba dia
mau mengatakan semua beban hidupnya pada pria tua yang ada didepannya. “Sebab
TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau,
Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah
takut dan janganlah patah hati”
“apa yang harus aku
lakukan?” Josh Bertanya. “Jawab Yesus kepadanya ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu,
dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama
dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’ “ Pria
tua itu menjawab.
“berikan aku kekuatan
untuk melakukannya..” Josh berkata, dari mata Josh mulai jatuh air mata menuju
pipinya.
“Segala Perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku” pria tua itu berkata lembut. Hening beberapa saat, Josh entah mengapa merasakan kekuatan di setiap kata yang dikeluarkan orang tua itu. Selama bertahun-tahun belakangan dia telah mengalami berbagai-bagai penderitaan dan untuk pertama kali dalam hidupnya dia merasakan ada setitik cahaya.
“Segala Perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku” pria tua itu berkata lembut. Hening beberapa saat, Josh entah mengapa merasakan kekuatan di setiap kata yang dikeluarkan orang tua itu. Selama bertahun-tahun belakangan dia telah mengalami berbagai-bagai penderitaan dan untuk pertama kali dalam hidupnya dia merasakan ada setitik cahaya.
“beban hidupku begitu
berat, hidupku kacau balau..adakah yang masih mau menerimaku?” Josh kembali
bertanya. “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang
yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan
Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan aku.” Pria tua itu
kembali menjawab dan melanjutkan perkataanya “aku tidak dapat menjanjikan
apapun padamu Josh, yang aku tahu saat kamu membuka hatimu bagi Dia, Dia akan
selalu hadir dihidupmu.” “apa yang harus aku lakukan untuk membuat Dia selalu
hadir dalam hidupku?” Josh bertanya dengan suara lemah. “Terima Dia sebagai Juruselamat pribadimu.” Pria tua itu
menjawab dan Sejak percakapan dengan pria tua itu, hidup Josh berubah total.
Guys, cerita ini hanya
ilustrasi.. bagaimana perkataan firman Tuhan dapat menguatkan, dan dapat
digunakan di setiap keadaan. Lain kali di saat kalian bingung dan mencari
jawaban atas kehidupanmu..bukalah Alkitabmu. BE BLESS!!
Ditulis oleh: Thomas Mulia. Contributor @GodBesideUs



Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus